Hai everyone…!! *lemparsenyumdulu*

Kali ini saya mau cerita tentang kisah yang saya ‘dapatkan’ sekitar sebulan lalu. Kisah terjadi di sebuah Sekolah Master Margonda Depok, dekat terminal Depok. Sebenarnya ini sudah mau saya tulis dari sebulan lalu, tapi karena mood belum maksimal, selepas aktivitas kantor saya baru tulis.

Kisah bermula saat saya liputan untuk produk ibu-ibu rumah tangga yang melakukan donasi pada sekolah itu. Sebelumnya, saya sudah pernah ke sana pada tahun 2008, untuk peliputan Bank Bu***** yang juga mendonasikan bantuan berupa uang dan peralatan. Di sana, hadir puluhan wartawan yang kepanasan (sumpah panas banget!) PLUS saya baru tiga hari pasca-operasi gigi, PLUS saya datang bulan hari pertama! Uhh, kebayangkan rasanya badan cekat-cekot sana-sini??? Saya pun tak bisa konsentrasi karena kesakitan. Akhirnya saya duduk saja di dekat panggung yang dihadiri ratusan orang (karena takut pingsan). Tetapi, selang beberapa waktu setelah liputan akan selesai, kami wartawan berkumpul dan mendengarkan cerita yang membuat badan saya terasa lebih ringan (bener lhoo!)

OASE

OASE

Begini ceritanya:

Alkisah, seorang asli Jakarta bernama Nurrochim yang besar sebagai pedagang dan sejak kecil tinggal di dekat terminal Tn. Abang, memutuskan untuk pindah rumah ke Depok bersama istri barunya. Perawakannya tidak besar, tidak juga terlalu kecil, kulitnya cokelat ‘matahari’. Cara bicaranya walaupun terdengar kasar, tetapi orangnya halus dan berdedikasi pada lingkungan. Ia pendiri sekolah Master Depok, yang diperuntukkan bagi anak batita sampai mahasiswa.

Mulanya dia cuma modal nekat, karena dia begitu prihatin pada anak-anak jalanan yang kebanyakan jadi korban sodomi dari para “bapak besar” dan lahir tanpa pernah tahu siapa bapak atau ibunya. Banyak pula yang cuma tahu ibunya, tanpa tahu bapaknya. Kebanyakan ibu-ibu mereka juga usianya masih sangat muda. Bayangkan saja, saat usia kanak-kanak saya, saya masih asik bermain dan bercanda dengan teman kecil saya, mereka harus berjuang di jalanan. Mulai dari mengamen, diperkosa (baik anak laki/perempuan), jadi buruh kasar, disia-siakan orang tua, hingga banyak dari anak perempuan yang hamil pada usia 12 TAHUN !! Menyedihkan, saya lihat sendiri.

Balik lagi ke cerita Pak Nur. Dia pun modal nekat membangun mushola kecil di sebelah rumahnya (dekat terminal persis), untuk mengurangi tindakan asusila yang sering terjadi di sekitarnya. “Saya takut, anak saya jadi rusak juga. Jadi saya pikir saya harus bertindak untuk menyelamatkan anak-anak saya. Karena saya yakin bila saya berbuat baik kepada sesama, anak-anak saya akan jauh dari kerusakan,” ya seperti itu dia bicara pada teman-teman wartawan.

Dengan segala strategi, ia buat mushala. Setelah mushala, ia buat TPA (tempat belajar Quran), setelah TKA dan TPA, ia buat SD, lalu terbentuk SMP, SMA, hingga akhirnya Perguruan tinggi yang sudah diakui Diknas. Berapa lama ia dan teman-temannya membuat itu semua? Sekitar 18 tahun, sejak tahun 1992. Sekolah di Sekolah Master, tidak setiap hari, tergantung dari kegiatan anak-anak jalanan yang juga harus mengais rejeki di pinggir ibukota dan ibukota. Tak masuk kelas juga karena sering kena razia polisi.

Pak Nur pun harus ‘bergulat’ otak dalam mendirikan sekolah itu. Dia menyiasati para raja preman yang terkenal sulit diatur, agar anak-anak itu bisa bersekolah dan mendapat makanan layak. Pada awal pendirian, Ia juga sering diusir dari perkantoran, dari departemen yang ada di Indonesia, karena sering dianggap lancang, karena modal nekat. Tapi usahanya berhasil, dan sekiranya tidak bisa menembus bertubi-tubi usiran, ia tidak akan bisa menjadikan sekolah itu dicintai oleh ribuan anak didiknya. Semua anak didiknya memanggil namanya “ABAH”. Ia bapak bagi anak-anak “Bang Toyib”, mereka punya bapak yang baik dan bertanggung jawab walaupun tidak pernah bertemu sosok bapak mereka.

Pak Nur atau Abah tidak pernah putus asa. Ia selalu berdoa dan bekerja keras demi kebaikan bersama. “Saya tidak pernah merasa sulit dalam mendirikan ini semua. Saya terlahir dari orangtua pengusaha, jadi saya tidak pernah merasa sulit untuk mendapatkan uang dan rejeki bagi anak-anak,” katanya dengan suara serak-serak. Setelah berkata seperti itu, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar 8 tahun, datang memanggil dan meminta tangan Pak Nur untuk ‘salim’. “Abah! Aku mau salim dulu, Assalamualaikum.. pulang dulu ya, Bah!” kata anak itu.

Salah satu dari kami bertanya, “Itu anak, tahu bapaknya siapa gak Pak?” Pak Nur menjawab, “Dia juga bang Toyib, ahahah” katanya. Sontak kami tertawa, salah satu dari kami menimpali, “Itu, bapaknya yang tadi disalimin..” sambil menunjuk Pak Nur. Hahahaha…. Tawa Riuh…

Pertemuan kami sebenarnya cuma sekitar 1 jam, berbincang-bincang bersamanya butuh konsentrasi juga. Karena, banyak bahasa “slang” yang kami tidak tahu artinya, dan itu bahasa jalanan setempat. Sebenarnya, saya masih mau banyak cerita, tapi pasti panjang banget ! Maka itu, saya mau bagi dalam dua bagian cerita tentang sekolahnya Pak Nur.

ABAH NUR YANG DILINGKARI

ABAH NUR YANG DILINGKARI

Semoga Nyanyian saya dalam tulisan ini Bermanfaat…!!! Sampai jumpa di next story-nya yaaa… hehe *PDbangetgw!!*

Salam hangat,

Anggita Devi