Saya tak menyangka, orang yang terlihat kurus, hitam, dan punya logat betawi totok itu punya penghasilan sekitar 200 juta per bulan. Tapi besar pendapatannya selalu ia sumbangkan untuk yayasan yang ia cintai, Yayasan dan Sekolah Master terbesar di Indonesia.
Ya, ini cerita tentang si Abah, alias Nurrochim yang sudah 20 tahun mengelana mencari perlindungan dan sesuap nasi untuk anak-anak jalanan.
Setelah berusaha mengenal si Abah dengan segala problematika yang ia hadapi dan ia katakan, “semua itu hal mudah atas KuasaNYA.” Lalu ia bercerita sedikit tentang infeksi virus HIV yang menghantui warga sekitar. Penyebab HIV-AIDS, apalagi selain seks bebas dan peredaran narkoba ? Tetapi selain itu, ada satu hal yang juga meningkatkan HIV-AIDS yakni TATTOO. Ya, Tato!
Abah bercerita, beberapa tahun lalu anak-anak setempat, usia 8 hingga 10 tahun, sudah berani menato tubuhnya. Hanya bermodal uang Rp 5.000,- untuk DP alias uang muka, mereka bisa mencicil tatto permanen pada si penato sebesar Rp 1.000,- per hari. YA, NYICIL TATO! Sejak ada tato, ‘ngelem’ pun jadi kurang populer.
Abah sempat kaget dengan hal itu, dikiranya, uang itu digunakan untuk ‘ngelem’ atau beli narkoba. Semenjak adanya tukang tato keliling, Abah mengaku penderita HIV-AIDS jadi bertambah. Untuk mengurangi dampaknya, si Abah pun langsung mengumpulkan para kreditor tato yang tersebar di terminal Depok. Langsung saja para kreditor diberikan pekerjaan yang lebih bermanfaat, menjadi para desainer grafiti di tembok-tembok jalan layang.
“Pokoknya saya gak mau tau! Lu semua jangan jadi tukang tato kredit lagi buat anak-anak kecil!” Ucapnya menirukan mengenang percakapan masa lalunya. Lalu ia menambahkan, “Tuh, liat ada anak umurnya baru berapa belas tahun tatonya segudang di badan. Udah gitu karena dulu menato badan waktu kecil, pas besar kulitnya mekar, jadi bentuk tatonya gak karu-karuan,” ujar Abah. Kami pun para wartawan langsung tertawa.
Selepas cerita tentang tato, salah satu dari kami melihat sosok perempuan remaja manis yang lewat sambil membawa gitar. Segera ia dipanggil oleh Abah untuk memperkenalkan dirinya. “Nama saya Tata, saya ini pengamen yang dulu kecil dirawat Abah bersama anak-anak lain… Ibu saya meninggal karena kanker, ayah saya meninggal karena kecelakaan, dan saya ingin jadi pengusaha toko musik dan pencipta lagu,” ujar Tata yang kalau ia terawat, wajah dan tubuhnya akan jadi sangat aduhai.
“Kamu gak takut diapa-apain orang di jalan?” tanya salah satu dari kami. “Nggak, saya gak takut dan saya selalu berdoa supaya saya dilindungi Allah SWT. Alhamdulillah saya tidak pernah celaka,” jawabnya. Kok bisa? Ya, karena katanya ia sering berpura-pura menjadi anak lelaki yang sedang mengamen. ……Ini mirip film telenovela apa gitu ya? Hahaha………..
Tata bercerita tentang kehidupannya bersama koloni kecil si Abah, bagaimana Tata dan kawan-kawan sering ditahan polisi karena mengamen disembarang tempat. “Tapi, semua polisi di sini tahu siapa itu Abah! Kalau tahu Abah, pasti kami gak jadi ditangkap!” Ujarnya. Ya, begitu besar kekuasaan si Abah. Sekarang kekuasaan Abah pun bertambah, di sekitar 1000 terminal di Indonesia (yang rata-rata berlokasi di Jawa) terdapat sekolah master cabang! Anak didik Abah pun sudah banyak yang dapat beasiswa PTN ternama di Indonesia. ……Oh God, saya langsung kaget!……
Sebelum acara bincang-bincang berakhir, kami sempat meminta Tata menyanyikan dua buah lagu untuk kami. Kami pun ‘saweran’ untuk memberikan upah yang siapa tahu nanti jadi modal dan berkah untuknya. Tak disangka, Tata si gadis manis berusia 17 tahun itu pandai berbahasa Inggris, karena dia menciptakan lagu dengan bahasa Inggris.
Akhir kata, jangan kalah dengan pengamen kecil yang menghiasi jalan raya. Hidup memang keras bagi mereka, tapi siapa mau jadi anak jalanan seperti mereka?
-Anggita Devi-
January, 18th 2012

Gita, lagi-lagi tulisanmu jadi bahan renungan sekaligus hiburan. lanjutkan!
Makasih Mas Didik!
itu dari jalan2 liputan.. behind the scene-nya… gehehe
kapan main ke jagakarsa? tak tunggu…
bakal banyak liputan lagi ya.ditunggu updatenya.
saya minta dikasi tau alamat dan rute ke sana dari bintaro, aja. mudah2an bulan depan bisa kesana,gita. udah lama ngga ketemu ibu. ada 3-4 tahunan ya?hehe.
kalau naik angkot, cari yang ke arah trakindo. dari trakindo ke arah ragunan. Terus dari ragunan ke arah jl. durian, (cari tempat namanya plataran) pasti udah terkenal. Dari plataran situ, gak jauh ada pertigaan, jangan belok kanan, ambil yang lurus. Dari situ ada jl. gandaria. Nah masuk jalan gandaria. Tanya ojek aja, namanya bapak saya. Rumahnya haji lunggo, sebutin anaknya satu2 juga ga papa… udah terkenal..