jump to navigation

SEATBELT & BROKEN WINDOWS THEORY Februari 25, 2008

Posted by lil4ngel5ing in Humor, Life Stage, Sosial, Suasana, lihat-lihat.
3 comments

“Buckle Up! Buckle Up!” teriak Rubi pada adiknya Rhet maktu hendak ngebut di film Glass House waktu adegannya dikejar-kejar Paman angkatnya pada akhir tahun 2001.

Hampir tujuh tahun berselang, dengan asiknya saya menyuruh seorang supir untuk menggunakan sabuk pengaman.

“Pak, tolong pakai sabuk pengaman, daripada kena semprit polisi & kalo2 rem mendadak kan kita minimal gak kejedod” ujar saya pada supir yang menghantar saya ke kantor.

“Ah mbak, saya udah mondar-mandir tapi gak ada polisi. Lagipula males pake ini ribet aja gitu” ujarnya sambil tertawa.

“Lha, nanti kalo kecelakaan saya gak mau rugi loh.. belum mau mati nih, belum merit” balas saya berkelakar.

“gak ada polisi mbak, yang penting kita jalannya pelan-pelan” selanya.

“Bismillah aja ya Pak !hehe, pasang ah pak… bukan soal polisi soalnya, ini kan juga untuk jaga diri aja” ujar saya tak mau kalah.

Begitu kiranya percakapan saya dan driver mobil beberapa waktu lalu. Dari percakapan tersebut saya teringat teori dari James .Q Wilson yang menerangkan teori ‘disiplin : kaca jendela pecah’. Kalau seseorang belum kena semprit polisi atau paling tidak ia mengalami kejadian yang membuatnya shock, biasanya peraturan yang dibuat akan sering mengalami pelanggaran. Ada yang bilang “Rules are pointless so rules are made for break”. Paling tidak, salah satu contoh lagi ada yang bilang “ah itu kan cuma peraturan, paling juga nanti orang lupa karena kebanyakan yang melanggar.”

Kebanyakan sih seperti itu, apalagi situasi pemerintahan yang masih labil. Banyak peraturan dibuat tapi cuma sedikit yang mendapat tindakan tegas dari aparat atau pemerintah, minimal tindakan dari warga yang sadar betapa pentingnya peraturan.

Oke, kita andaikan saja dengan serial Doraemon, ketika Nobita dkk main kasti di lapangan yang letaknya mepet rumah bapak pemilik pohon bonsai. Tiba-tiba bola melambung dan ‘PRAANG’ kaca pecah si pemilik keluar. Nobita pun jadi kambing hitam untuk mengambil bola tersebut dan mengganti kerugian. Kalau pemilik rumah terus-terusan membiarkan Giant dkk (plus si kambing hitam nobita) memecahkan kaca atau pot bonsainya, maka tidak ada raut wajah ketakutan dari anak-anak itu. Minimal, rumah tersebut bisa diajak kompromi dan bola pun kian hari bisa membuat seisi rumah amburadul.

pake,nggak,pake,nggak

Sabuk pengaman salah satunya, mulanya di Inggris pada awal tahun 1995 dimana sabuk pengaman wajib digunakan oleh pengendara mobil. Konon, Lady Diana pernah ketangkep polisi gara-gara lupa pasang seatbelt. Lalu menyusul peraturan sabuk pengaman, peraturan dilarang merokok di tempat umum. Ada lagi, peraturan tentang tidak buang sampah sembarangan di Indonesia pada era suharto dengan moto ‘GDN alias Gerakan Disiplin Nasional’. Semua peraturan Inggris dan Indonesia rata2 mirip cuma pemberlakuannya aja yang beda. Di Indonesia bagaikan kaca jendela yang sudah pecah sana-sini akibat tangan tak bertanggung jawab. Jadi, pemerintah dan tentu dengan dukungan warga menyadari kalau peraturan yang berupa jendela tersebut nyaris pecah semua. Namun, sadar sih sadar… tapi apa tindakannya pada jendela yang merupakan ventilator udara, pembuka jalan radiasi matahari yang hangat, jendela yang membuka mata kita untuk tidak jenuh menatap ruang di sekeliling kita.

Jadi, kalau jendela rusak, apa guna si jendela itu. Kalau seatbelt dan polisi pun ada, maka apa guna pelindung diri yang dibuat mahal dari pemilik pabrik kecuali jadi barang rongsokan suatu hari nanti. “Ah, siapa sih yang buat peraturan itu? Cuma manusia juga bukan Tuhan”. Kalau peraturan manusia yang buat saja, aparat sering marah bagaimana peraturan yang dibuat Tuhan kalau kita melanggar? Pasti IA lebih marah kan? Allohualam…

-Sambil Iseng Menyalurkan Ide-

PING HIJAU YANG KECIL PUN INGIN MELIHAT DUNIA Februari 19, 2008

Posted by lil4ngel5ing in Suasana, flashback story, humanity, lihat-lihat.
9 comments

Ping melompat, Hop! Kakinya kurus kering. Warnanya hijau klorofil, matanya yang kuning layaknya melotot kearah pohon besar yang tak pernah dapat ia mendaki. “aku ingin bisa sampai pada dahanmu duhai pohon” ujarnya dalam hati. Kakinya memang kecil, siapa sangka lompatannya dua kali atau mungkin enam kali lebih tinggi dibanding para manusia. “KROOOOKK, PANGPUNG, TUNGTUNGTUNG” mereka para katak suka bernyanyi.

Ingin rasanya lari dari kolam, bosan dengan suasana yang begitu-begitu saja. Menjelajah lebih luas dunia yang tak ada habisnya untuk ditelusuri. Kolam yang menjadi tempat tinggalnya saat lahir hingga remaja itu ia tinggalkan. Ikan-ikan, laba-laba air, belut dan semua populasi binatang di kolam itu bertanya ‘mau kemana kau pergi wahai Ping?’ Sebagian besar dari mereka mengatakan itu konyol, tapi tak banyak yang mendukungnya. Ping tetap nekat pergi dari kolam yang tak pernah ia tinggal sebelumnya. Kolam yang memberinya kehidupan lahir dan batin di masa sebelumnya.

Mau kemana, Ping pun juga tak tahu. Ia hanya ingin lepas dari kepenatan yang singgah di kehidupan hari-harinya. Ia harus melewati hutan yang ditumbuhi aneka ragam hayati. Semula ia ragu, tapi keraguan ia tepis. Satu persatu, ia mencoba melompati dan melewati pepohonan itu. Kakinya kecil dan kuat seolah tak pernah kenal rasa lelah demi mencari arti jiwanya yang dijual untuk sebuah pengetahuan. Dan, suatu hari ia bertemu dengan pohon yang gagah dan sulit dilompati. Ia mengeluh, tapi tak sedetikpun keluhannya membuatnya putus asa untuk meraih puncak pohon tertinggi itu.

“Aku, Ping si katak yang suka melompat! Tak boleh ku menyerah sebelum tiba ajalku” kira2 begitulah ucapan Ping. Sampai suatu ketika, dirinya seringan bulu angsa, dan segesit garuda saat menukik indah.

Haloo!

“Ah, aku sampai! Aku sampai !” teriaknya tak percaya. Ia pun melihat langit, ujung dunia yang pernah terbesit di benaknya sekejap sirna menjadi debu-debu bintang. Dunia luas, terpatri dipelupuk matanya saat melihat keindahan di luar kolam. ‘Andaikan mereka dapat melihatnya” senyum Ping penuh kemenangan. Tapi tak pernah ada puasnya ia untuk mencari dahan yang lebih tinggi dan lebih kokoh. Mulai saat itu pun ia terkenal dengan sebutan Ping si katak hijau pelompat pohon.

Mungkin sama halnya dengan kita kaum manusia yang selalu haus akan ilmu yang tak pernah ada habisnya. Tapi, tanpa tekad yang kuat kita mungkin tak akan pernah menikmati masa-masa sulit dan kebahagiaan saat kita berhasil mencapai hal yang belum pernah kita lihat.

“Ah Ping, kau kecil saja bisa seperti itu.. mengapa kami tidak bisa?” suara saya dalam hati. Hanya saja saya bukan orang yang sepenuhnya bersandar pada kesabaran layaknya Ping hijau yang kecil.

-Diambil dari cerita Ping yang hidup di Cina ribuan tahun lalu-

(lupa nama penulisnya)

Di Tepi Jurang-Jurang Kota Februari 1, 2008

Posted by lil4ngel5ing in lihat-lihat.
7 comments

At New Tower

Saya menyempatkan diri mampir ke roof’ dan gudangnya SCTV Tower Senayan City. Karena belum selesai, kita para karyawan sering batuk2 karena banyaknya debu yang bertebaran di ruangan kantor. Saya jadi bertanya, bagaimana dengan para kuli bangunan tersebut. Saya pun sempat berbincang dengan mereka, para kuli yang tubuhnya penuh debu.

Saya pun jadi berfikir, mereka hidup di tempat yang penuh debu, tidur sembarangan, kerja tak kenal waktu, kerja serabutan dengan upah harian sekitar 25ribu rupiah.

Kalau saya lihat ke ‘Atas, saya jadi berfikir dua kali. Tanpa mereka kita2 yang sekarang tinggal enak duduk dikantor tidak merasakan debu yang sangat banyak itu. Mungkin mereka bukan orang yang sukses dalam mengejar cita-cita. Kan, mana ada orang mau jadi seorang kuli bangunan? Minimal ia jadi mandor masih mending.

Sementara banyak orang2 yang berseliweran di depan saya, mereka wangi, cantik dan ganteng, pandai membawa diri dalam bisnis perusahaan. Namun, business is business mereka biasanya banyak yang tidak peduli akan nasib orang. Tergantung dari orang itu sih. Saya ingin suatu hari bisa sukses, karena saya termasuk orang yang ingin selalu goal dalam project hidup saya ‘pokoknya mesti begini’ meskipun pada akhirnya kadang suka gerutu2 dikit. Tapi toh selama ini demi kebaikan dan kemajuan diri, saya selalu diberi jalan oleh YANG MAHA KUASA. Amiennn…

Tanpa sadar kami sudah tidak menghargai kerja para kuli bangunan itu. Mereka memang pekerja kasar, tapi tidak sepatutnya dikucilkan(atau mereka merasa rendah diri). Karena kami berkantor di area yang belum jadi 100% pembangunannya, dari mulai direktur sampai kondektur (bus antar jemput karyawan) pun sering hilir mudik di gedung. Para buruh bangunan biasanya hanya menundukkan wajah bila bertemu mereka yang wangi2 itu. Walaupun ada juga yang super genit (beberapa orang) yang tak bisa lihat barang wangi dan mulus sedikit.

Lift di gedung baru ada 4, namun yang baru dapat dimaksimalkan baru dua. Karena karyawan yang menempati gedung tersebut sudah cukup banyak, lift pun harus berdesak2an. Karyawan kadang harus bersama para buruh naik lift. mereka business man and womenlangsung menutup hidung, melototi para buruh itu…. Malah ada yang jauh2 dan risih.

Padahal mereka bilang, semua manusia setara, cuma ahklak dan budi yang membedakan mereka. Tuhan pun juga bilang begitu, saya toh bukan orang yang suci seperti para nabi dan isteri mereka yang sholeha…

Orang tua mereka pasti tak ingin anaknya terlihat seperti itu, mengarungi bangunan2 dengan penuh peluh dan debu. Hanya saja, mereka butuh biaya yang halal untuk menyambung nyawa. Mereka pun rata2 kena radang paru2, ah kasian… mereka jarang menutupi wajah mereka dengan masker, ah, jangankan masker. tubuhpun hanya dengan busana seadanya tak bisa lepas dari debu2 itu. Kadang mereka beol dan pipis di tempat dengan membawa ember… untuk bersama… ah, baunya kalau lewat… tapi mereka tak peduli.. yang penting buang hajat… masa bodoh bau atau nggak..

Ah, hidup.. cuma sekedar numpang lewat, semua orang hidup tujuannya cuma mati.. Kita ingin maju, maka melihat keatas bagaimana orang yang wangi2 itu bekerja menggunakan otak mereka. Tapi, bagaimana mengukur sebuah kesuksesan jasmani maupun rohani… Si buruh itu, hanya ditakdirkan untuk tidak mampu sampai menutup mata meskipun sebagian dari mereka nantinya entah menjadi apa..

Ah, saya kadang kurang puas diri karena telah tercukupi oleh materi yang ada di dunia ini. padahal, masih ada yang lebih menderita di bawah saya. Mereka tetap bersabar… Ah, ya sebagian atau banyak dari mereka sukses dalam kesabaran mungkin. Tak ambil pusing dibilang kuli, bau, tak berpendidikan, kasta kecil dan semua2 yang mejatuhkan harkat dan martabat mereka oleh kaum yang wangi2 itu.. “yang penting bisa makan dan hidup” ujar salah satu dari mereka merenungi nasib di tepi jurang gedung seperti hendak melompat saja… “saya nikmati dan capek” ujar si Mas buruh menerawang langit luas…