Con Te Io Li Vivro Maret 24, 2008
Posted by lil4ngel5ing in Life Stage, Renungan, Saya, Suasana, Supernatural.2 comments
Sudah sebulan lebih saya vakum tulis blog disini, banyak kejadian yang membuat saya tertawa, menangis, marah, terhibur dan juga menjadi bahan renungan. Meskipun dalam keseharian, saya orang yang sangat ceria….
Beberapa hal yang saya ingin ceritakan dalam curhatan saya saat ini meski tak mewakili perasaan saya seluruhnya;
Pertama, bahwa minggu ini akan jadi minggu terakhir saya berkantor yang sudah membelajari saya dengan segudang ilmu selama 4 bulan. Saya termasuk orang yang keras kepala, rebelious girl, idealis tinggi. Saya memutuskan untuk bekerja di perusahaan lain yang bisa memberi saya ilmu baru. Saya haus akan ilmu, karena kekurangan yang saya miliki.
Alasan lainnya faktor kondisi, saya rasa pekerjaan yang saya lakoni kurang memaksimalkan haus ilmu pengetahuan saya dan tak memungkiri ketidakcocokan idealisme saya kepada atasan saya. Saya bilang, saya termasuk si pemberontak saya akan minta maaf padanya nanti. Karena belakangan ini, saya rasa beliau mulai sadar atas perilaku saya yang terkesan cepat dan dingin. Saya mengakui saya orang yang tidak pernah puas akan sesuatu yang saya raih. Bolehlah anda bilang saya ini serakah atau mungkin rakus. Rakus terhadap sesuatu yang saya pertanyakan di dalam hati kecil saya. Saya menyadari, dan saya sering berdoa semoga keserakahan saya ini berakibat positif buat saya.
Kedua, Beberapa waktu lalu ayah saya terkena serangan jantung yang cukup membuat kami shock. Pasalnya, Ayah saya terlihat sangat sehat sebelum terjadi serangan jantung. Meskipun ini bukan kali pertama, sudah empat kali hal ini terjadi. Tapi yang terakhir ini terlihat cukup parah. Hingga akhirnya harus berobat jalan dan menghabiskan banyak biaya. Alhamdulillah, kesehatannya mulai membaik.
Ketika itu terjadi sesuatu membisikkan saya saya, entah suara itu asalnya dari mana saya tak tahu. Suara itu datang tiba-tiba meresap di hati saya, suara jelas terdengar di telinga saya. Selama setahun belakangan ini saya cenderung cuek dengan suruhan orang tua saya yang menginginkan saya berkeluarga. Saya tentu belum siap, apalagi kalau saya punya pacar pasti hanya sebentar. Entah, saya selalu egois dan kadang tak mau terima kekurangan pasangan saya itu.Ketika suara itu bergema, “Ayahmu masih ada, siapa lagi yang akan mewalikanmu saat kau bersanding? Maka sempurnakanlah agamamu segera” begitu kira-kira saya dengar.
Saya sontak kaget, mencari asal suara itu. saya sempat bingung, karena jujur sebagai manusia biasa saya punya pilihan untuk membangun keluarga sakinah mawadah dan warohmah. Jujur, hati saya masih ter- ‘TAHAN’ seseorang yang sudah tak mungkin lagi saya raih. Saya tak bisa melepaskan bayang-bayang orang itu. Ah, Entahlah… saya selalu berharap akan dirinya yang melupakan saya.
Apakah saya harus mengucapkan selamat tinggal padanya, tapi sungguh perasaan saya amat besar padanya. Bagaimana pun keadaanya, menikah ataupun belum menikah, saya selalu kagum padanya. Sungguh…. bagaimana pun keadaannya, saya selalu bangga padanya.
Apakah saya harus mengucap perpisahan? seperti perpisahan yang beberapa minggu ini akan saya lakukan di rumah kedua saya tempat menggali ilmu dunia kerja…. Should be it’s time to say goodbye terhadap cinta yang sudah absurd….
Sepertinya begitu….
When I’m alone I dream of the horizon and words fail me
There is no light in a room where there is no sun and there is no sun
If you’re not here with me, with me from every window unfurl my heart
The heart that you have won into me you’ve poured the light
The light that you found by the side of the road
Time to say goodbye (Con te partiro)
Paesi che non ho mai veduto e vissuto con te adesso si li vivro
Con te partiro su navi per mari che io lo so
No no non esistono piu it’s time to say goodbye (con te io li vivro) (Sing by Andrea Bocelli & Sarah Brightman)
AT OFFICE
