jump to navigation

Rahasia Dusun Moramo Januari 25, 2008

Posted by lil4ngel5ing in History, Sosial, humanity.
4 comments

Dua minggu lalu, selama 5 hari berturut2 saya berkunjung ke Sultra. Tepatnya 175 kilometer dari ibukota kendari, terdapat dusun bernama Dusun Moramo, tepatnya di kecamatan Konawe Selatan. Sayang sekali saya belum terima hasil gambar yang saya ambil disana.

Saat itu, sulawesi baru beberapa tahun menjadi bagian dari NKRI. Atas dasar itu, kerajaan setempat menginginkan Presiden Soekarno untuk mengolah tanah sulawesi agar seimbang dengan teknologi yang ada di pulau jawa saat itu. Mulailah, soekarno mencanangkan program transmigrasi.

Alkisah ada sepasang suami istri yang sudah 15 tahun menikah, tergiur dengan program transmigrasi. Baginya, ia ingin bebas dari menjauhkan diri dari belanda yang masih tidak mau melepaskan ‘nafsunya’ tehadap indonesia. Alasan kedua, ia ingin memiliki tanah yang luas untuk digarap. Selama ia tinggal di Kutoarjo, ia dan keluarganya hanyalah seorang kecil yang menggarap ladang hanya untuk kaum priyayi. Perjanjian pun dibuat, satu kepala keluarga dihadiahi tanah sebesar 2 hektar dengan harga kurang lebih 250 rupiah/hektar saat itu.

Sebut saja Surtinah dan Karto, sepasang suami istri yang ingin meningkatkan kehidupan mereka di tanah yang sama sekali belum ia ketahui medannya. Bersama puluhan pasangan suami istri lainnya, mereka pergi merantau ke negeri bekas kerajaan Bone dan Buton tersebut. Berbekal pakaian, makanan kering, perkakas seadanya serta uang dari pemerintah sekitar 1000 rupiah/kepala keluarga mereka pergi.

Tiga orang anak mereka, tidak ingin mengikuti langkah orangtua mereka. Mereka tetap menetap di Kutoarjo tercinta bersama paman, bibi, kakek dan nenek mereka. Pemerintah pun membuatkan fasilitas terbaik saat itu seperti aspal yang hingga kini masih ada meskipun sudah tak layak pakai. Selain itu, rumah dan lahan hutan yang belum resmi dibabat sebagai lahan perkebunan dan sawah.

Sisa-sisa kejayaan transmigrasi masih terlihat dengan jelas kala saya pergi menelusuri desa tersebut. hanya sayangnya, pemandangan selama menuju Moramo, harus dirusak dengan penambangan batu marmer oleh pemerintah dan rakyatnya sendiri. ‘Bakrie Group’ telah membelah bukit setinggi kira 250 meter. bukan satu bukit saja, puluhan bukin terkoyak akibat penambangan marmer. Mungkin saja si bukit berkata ‘manusia, saya bosan dan tersakiti olehmu. Andaikan saja saya kulitmu apa tak pernah merasa sakit diiris oleh traktor-traktormu berbunyi sangar’.

Moramo terkenal dengan air terjunnya yang berkolam2 layaknya tangga di setiap anak tangganya dan tanpa ikan. Airnya banyak mengandung sulfur dan alkali. Batu-batu air terjunya pun banyak yang tak ditumbuhi lumut bewarna hijau. Sekilas tampak batu-batu bewarna hijau, tapi tak licin bila tersentuh kulit. Warnanya seperti batu giok, sedangkan airnya bewarna biru kala terbias cahaya matahari, dengan pasir lumpurnya bewarna keemasan. setiap kolam dibatasi dinding setinggi 4 meter. ‘Ya Tuhan, betapa cantiknya wajah bumi yang kau cipta ini’ pikirku setiap saat.

Dahulu kala, dipercaya sebagai tempat mandi para bidadari dan putri-putri yang jelita. Seorang prajurit Belanda lalu mempopulerkannya terhadap masyarakat luas yang belum mengetahui. Airnya tak bisa diminum langsung sbelum direbus, tidak panas seperti air bersulfur lainnya, sangat sejuk. Namun, semakin kebawah, air kehilangan sifat sulfurnya. Penduduk pun leluasa memakai air dari Sungai moramo.

Di kaki gunung (entah apa namanya) sungai moramo mengalir, menuju air terjun moramo butuh waktu 1 1/2 jam, dan setelah masuk ke dalam kawasan moramo, kita harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer menyusuri hutan yang sudah tidak perawan lagi. Uniknya, penduduk di konawe selatan kebanyakan warga transmigran dari Jawa dan Bali. Mereka bercocok tanam dan berdagang dengan membuka warung dan pondok-pondok kecil.

Saya berenang cukup lama disana, menikmati pemandangan yang tidak ada di Ibukota jakarta. Berusaha menghirup udara sebanyak mungkin saya dapat. Kecipuk2 air dari pengunjung yang jumlahnya puluhan termasuk saya, mereka berenang. Mereka berenang, makan dan buang air disana. Saya berenang, loncat dari atas tebing setinggi 4 meter… ah segarnya.

‘Kotor, Bau, penuh sampah dan tak terawat’ itulah ucapan saya ketika masuk ke fasilitas pengunjung. Ah, Indahnya air terjun tak seindah perilaku pemda yang cuma mau hasil tapi tak pernah merawatnya. Dua jam saya bermain, berenang, melompat dan memanjat dinding-dinding air terjun yang bewarna hijau dan tak berlumut. Ingin rasanya batu-batu itu saya ambil dan saya jadikan perhiasan di tubuh saya.

Saya pun kembali ke mobil, menyusuri kembali hutan yang tak perawan didiringi aliran sungai Moramo. Bersama keluarga saya, saya ingin ‘ngemil’ dan kami membeli ubi rebus. Nikmat memang… Tapi tak senikmat kehidupan si penjual Ubi rebus itu.

Si penjual Ubi adalah seorang nenek berusia 7o tahun, yang menjanda dan tinggal bersama anaknya yang paling kecil. Siapa dia?

Ah, Dia Surtinah janda almarhum Karto yang sudah 40 tahun tak pernah pulang ke kampung halamannya. Sawah dan ladangnya cukup luas digarap oleh si anak bungsu. Warungnya layak gubuk yang cukup bersih dan tertata rapi yang hanya diterangi lampu berbahan bakar minyak tanah. Bukannya tak ada listrik, listrik memang ada meskipuntak sebesar di Jawa. Hanya saja, ia tak mampu membayar listrik. “cukup dirumah listrik itu ada” ujarnya.

Sesekali ia menyesal hidup dalam keadaan seperti itu, jarang tetangga, senyap dan tidak berkembang. Sampai bermimpi ia pulang kampung ke Kutoarjo. Ah, Mbah yang malang…. Ia tak pernah jumpa cucu-cucunya, beberapa tahun lalu ia hanya jumpa dengan dua anak terbesar saat menjenguk dirinya -dua kali saja- selama 40 tahun tanpa pernah melihat cucu-cucunya. Hanya selembar foto ia dapat berjumpa dengan cucu yang tak pernah ia jumpai.

Saya tak tau bagaimana nasib transmigran lainnya, tapi saya pikir hampir semua seperti dirinya. melihat bagaimana kehidupan mereka disana. Mbah Surtinah, ingin mati di desanya meskipun suaminya meninggal di Moramo. Selembar demi selembar uang ia kumpulkan untuk bisa mati dan tak kembali ke Moramo, tapi lembaran uang itu hanya cukup untuk dirinya semata. Anak bungsunya bukan berarti tak pernah pergi ke Pulau Jawa, si bungsu pernah ke Jawa hanya saja hanya cukup untuk dirinya.

Ah, saya jadi berpikir dua kali mondar-mandir ke sulawesi saja 1,6 juta naik pesawat belum lagi kondisi Makassar yang banyak ‘ranjaunya’ alias kondisi cuacanya tidak bagus. Sedangkannaik kapal laut hanya sekitar 100 ribuan. Andai saya tak tinggal di Jakarta saya berikan tiket itu untuknya. Untuknya yang hanya ingin mati di Kutoarjo dekat anak dan cucunya… Suatu hari saya ingin kembali kesana… membawa hadiah tiket kematian senilai 200ribu rupiah perkepala… mati di halaman sendiri….

“hanya beginilah hidup, saya belum mengalami perisiwa seperti kakek dan nenek saya. Ingin rasanya lari ke medan perang untuk memaknai hidup sesudah mati, riwayat yang tak ada habisnya dan pelajaran untuk cucu-cucu kelak.”

Harap dan sesal saat ini dahulu hanya masa SMA tak saya pergunakan menuntut ilmu seperti harapan Orangtua. Kini harapan hanya semoga saya menjadi jurnalis yang berpegang teguh pada etika budaya dan agama.

Note : Serius amat nih nulisnya,….. hahaha tapi ini betul, gak pernah terlupa dari ingatan..

ORANG MISKIN DILARANG SAKIT??? Desember 18, 2007

Posted by lil4ngel5ing in Sosial, humanity.
1 comment so far

SUPER market condition…..

Pundi Amal SCTV

Sabtu 15 Desember 2007 lalu saya menyempatkan diri berkunjung ke Muara Baru (JakUt) dalam rangka Pundi Amal SCTV (PAS) yang entah sudah berapa kali diadakan. Tapi yang pasti, yang namanya pundi amal pasti ditujukan untuk masyarakat kelas menengah kebawah atau paling ‘mentok’ masyarakat yang terkena musibah. Berbagai alasan yang dibawa masyarakat untuk rela antri periksa di klinik gratis yang dilakukan oleh Yayasan Obor Berkah Indonesia (OBI). Saya sebagai salah satu panitia yang bertugas membuat dokumentasi (foto) harus turun tangan membantu rekan2 saya yang kewalahan dengan antusiasme masyarakat yang ingin diperiksa gratis. Keluhan yang mereka alami beragam mulai dari gatal2, asam urat, mencret, ketusuk paku sampai cuma mau ‘nyetok obat’ gratis dan mejeng.

Kami panitia mentargetkan seribu tiket periksa gratis habis dan selesai dalam waktu yang ditentukan yakni pukul 10am-5pm plus istirahat. Tapi nyatanya, kami para panitia nyaris tak bisa istirahat akibat para pasien susah diatur dan nggak mau ketinggalan periksa gratis. Saking sumpeknya suasana, panas & bau kami para panitia dari PAS dan OBI sampai mual, pusing dan letih luar biasa. Tiket bukannya, ‘ngepas’ tapi malah kurang banyak, sehingga banyak ‘pelamar’ yang protes dan tidak terima kenyataan kalau tiket habis dan panitia yang sudah mabok liat manusia bergerundel.

Meskipun bau keringat, mabok lautan manusia kami puas dengan antusiasme masyarakat. saya sendiri sampai serak dan pegal2 menangani manusia arogan yang kepingin gratis diperiksa oleh dokter. Kenapa saya sebut manusia arogan? Karena mereka mungkin akan membayar mahal seorang dokter untuk keluhan yang mereka derita. Sementara hari itu dokter tidak dibayar, obat gratis dan masyarakat terlalu sugestif dengan apa yang dikatakan dokter dan mereka membayarnya dengan rela antri berjam-jam dengan peluh. Para pengantri yang rata2 para ibu yang membawa balita pun saling dorong sehingga 10.000 watt tangisan bayi membuat saya pusing. Suara saya yang saya perbesar dengan ‘toa’ tak mempengaruhi ketidaktertiban warga Muara Baru.

Saya sempat berkunjung ke salah satu rumah warga yang sudah puluhan tahun berteman dengan banjir tahunan. Dan sialnya lagi, sekarang ada bahaya mengancam yakni air pasang setiap hari akibat tanggul laut jebol. Malahan di ANTV selama konfrensi UN Climate Change Conference 2007 mengatakan, daerah utara Jakarta akan terhapus dari peta pada 2080.. Mereka hampir tiap hari harus memindahkan barang ke loteng. Air pasang tersebut sudah bercampur dengan limbah pabrik dan sampah2 yang ada di setiap sudut kecamatan muara baru. Ughhh, baunya ampun, itu dalam keadaan belum pasang apalagi kalau air pasang ya?

Saya juga tak melihat ada praktek dokter di kecamatan tersebut. Jadi dokter itu salah satu barang berharga di salah satu lokasi kota Jakarta yang katanya kota metropolit ini. Menurut pandangan saya, para dokter memang hari itu tanpa dengan senang hati membantu warga yang kena banjir. Hanya saja, obat2 yang diberikan disamaratakan untuk penyakit tertentu. Sehingga, timbul pertanyaan dalam benak saya akankan obat tersebut menyembuhkan? Atau hanya menjadi racun yang perlahan merusak organ? Yah, ada pepatah mengatakan ; orang miskin tak boleh sakit…. alasannya karena biaya pengobatan mahal. Jadi, mau tak mau mereka harus lebih survive.