Catatan Harian Seorang Pria Agustus 31, 2009
Posted by lil4ngel5ing in Belajar mencinta, Suasana.4 comments

Berapa banyak hartamu untuk membeli sebuah kesabaranku?
Rasanya hatiku benar-benar hancur dibuat menderita.
Segala upaya ku kerahkan untuk bisa membahagiakanmu
Tapi sepertinya tak ada balasan dari dirimu
Mungkin bila tiba waktunya, aku tidak akan pernah peduli lagi
Akan kubiarkan menangis sejadi-jadinya dibawah mata kaki-ku
Ah apa aku tega demikian? Rasanya tidak akan tega, hanya bayangan saja
Aku tak pernah mau memperpanjang masalah, mungkin jalanku harus seperti ini
Cincin itu masih tetap tersimpan, rasanya ingin kubuang atau ku jual
Buat apa, toh dia tak akan pernah tau betapa aku mencintainya
Lebih baik kuberikan pada wanita lain, yang tidak aku cintai
Wanita yang jauh dari harapanku, wanita yang tidak pernah terlintas di benak
Ia datang tiba-tiba, dengan segala ocehannya yang lugu dan kadang mengesalkan
Tapi, ia sangat sayang padaku. Cintanya tulus, lembut seperti embun di pagi hari
Ia cantik dan lucu, kepolosannya kadang membuatku malu pada diriku sendiri
Aku sematkan cincin platina bertahta berlian di jari manisnya
Ia tak pernah tau, untuk siapa cincin itu sebenarnya berlabuh
Tapi pasti ia tahu untuk siapa hatiku berlabuh, pada ia yang hatinya diisi pria lain
Aku dan ia mengikat hubungan hanya karena sesuatu dan bisnis
Wanita cantik dan lucu itu tahu, aku pria yang tak tahu diri barangkali
Sering membentak wanita cantik dan lucu itu hanya karena kesalahan kecil
Ku lihat ia terpengkur di sofa rumah, letih wajahnya manis sekali
Betapa teganya diri ini menyakitinya, ah jangan-jangan aku sudah jatuh cinta lagi
Sepertinya, aku memang jatuh cinta lagi… tapi aku masih enggan mengatakannya
Sebulan, dua bulan, tiga bulan hingga setahun, ia kini membuatku tergila-gila
Aku jadi posesif, posesif tak beralasan. Ia sering kabur bila aku sudah menjadi ‘gila’
Tapi aku tak pernah katakan padanya aku jatuh cinta padanya
Tapi ia tetap seperti dulu, di balik kemarahannya karena sikapku, ia tetap manis
Suatu hari saat cintaku membuncah-buncah, wanita yang lain datang ke hadapanku
Terisak-isak karena pria yang ia cintai jatuh cinta pada wanita yang lain
Ia merajuk di pundakku, sedikit mabuk kepayang akibat minuman keras dan cinta
Aku tak tega, bingung mengapa ia kembali padaku saat seperti ini?
Wanita itu, membuatku bingung, memang masih ada nafas cinta di hatiku untuknya
Ini peluang, cinta itu tak pernah salah. Tapi peluang itu yang membuatku belingsatan
Ah peluang brengsek, mengapa terjadi saat ini. Bagaimana menyikapi peluang itu?
Wanita itu kembali lagi mengisi hari-hariku, aku tahu si cantik dan lucu itu cemburu
Wanita yang mengisi hariku selama setahun lebih itu terlihat sedih
Berulangkali ia pergi tanpa izinku, aku jadi kebingungan dengan apa yang terjadi
Hingga akhirnya aku memutuskan pergi menyebrangi pulau lain berikhtiar pada Tuhan
Semua orang mencariku, aku tak peduli yang penting sepulangnya keputusanku bulat
Malam itu, aku bermimpi, si cantik dan lucu seolah hanya tinggal nisan belaka
Aku terbangun, seperti baru tersambar petir, segera ku kemasi barang-barangku.
Pulang dengan perasaan tak karuan, ada apa dengan dirinya.
Aku tak peduli dengan semua hal keculi ingin melihatnya hidup-hidup
Ku buka rumah itu, tak terkunci, di dalamnya hanya ada ia seorang sebatang kara.
Rumah yang menjadi harta satu-satunya setelah ditinggal kedua orang tuanya.
Kulihat ia duduk melamun di teras dengan gelas berisi air putih di hadapannya
Ia tak mendengarku masuk ke dalam rumah, rumah itu tetap bersih seperti biasa
Ia membalikkan badannya, terkejut menatap wajahku yang sedikit tak terurus.
Ia bingung, tak tahu harus berkata apa, tak lama senyumnya mengembang
“Dari mana saja kamu, tak ada kabar? aku masak tadi, kelihatannya kamu lapar”
Ia berjalan meninggalkanku, mematung sendiri. Ah betapa tulusnya ia.
Aku mengikutinya, lalu duduk di ruang makan. “ayo makan, ini enak kok”
Aku tersenyum, ia tersenyum. Betapa lega hatiku mendapatkan dirinya baik-baik saja
“aku tahu, kamu bingung. Sekarang aku serahkan semuanya padamu” ujarnya
Aku membelalak, tak menyangka ia begitu tenang menyampaikan kegundahannya
Ia melepas cincin pemberianku, ikatan cinta yang palsu dariku
“ini, pada siapa cincin ini berlabuh hanya kamu yang berhak menyematkannya”
Nyaris saja aku tersedak masakannya, aku berhenti mengunyah
“Simpan saja, itu hanya untukmu seorang. Selamanya hanya untukmu”
Ia seolah tak percaya, sampai ku memeluk dirinya dan menangis
Aku minta maaf padanya, menyesali apa yang telah terjadi
Ia tersenyum, “tak apa, aku sudah tahu jawabannya. Aku menantimu seperti ini”
Lalu ia pergi ke luar rumah itu. Entah kemana, aku harap ia baik-baik saja.
“Kamu tidak akan pernah tahu, seberapa besar cintamu hingga orang itu meninggalkanmu” ujarnya lirih
lalu ia pergi menghilang dari hadapanku.
To be Continue to Catatan Harian Seorang Wanita
(Inspired by article, novel & drama)
Jakarta, August 29 2009
Con Te Io Li Vivro Maret 24, 2008
Posted by lil4ngel5ing in Life Stage, Renungan, Saya, Suasana, Supernatural.2 comments
SEATBELT & BROKEN WINDOWS THEORY Februari 25, 2008
Posted by lil4ngel5ing in Humor, Life Stage, Sosial, Suasana, lihat-lihat.3 comments
“Buckle Up! Buckle Up!” teriak Rubi pada adiknya Rhet maktu hendak ngebut di film Glass House waktu adegannya dikejar-kejar Paman angkatnya pada akhir tahun 2001.
Hampir tujuh tahun berselang, dengan asiknya saya menyuruh seorang supir untuk menggunakan sabuk pengaman.
“Pak, tolong pakai sabuk pengaman, daripada kena semprit polisi & kalo2 rem mendadak kan kita minimal gak kejedod” ujar saya pada supir yang menghantar saya ke kantor.
“Ah mbak, saya udah mondar-mandir tapi gak ada polisi. Lagipula males pake ini ribet aja gitu” ujarnya sambil tertawa.
“Lha, nanti kalo kecelakaan saya gak mau rugi loh.. belum mau mati nih, belum merit” balas saya berkelakar.
“gak ada polisi mbak, yang penting kita jalannya pelan-pelan” selanya.
“Bismillah aja ya Pak !hehe, pasang ah pak… bukan soal polisi soalnya, ini kan juga untuk jaga diri aja” ujar saya tak mau kalah.
Begitu kiranya percakapan saya dan driver mobil beberapa waktu lalu. Dari percakapan tersebut saya teringat teori dari James .Q Wilson yang menerangkan teori ‘disiplin : kaca jendela pecah’. Kalau seseorang belum kena semprit polisi atau paling tidak ia mengalami kejadian yang membuatnya shock, biasanya peraturan yang dibuat akan sering mengalami pelanggaran. Ada yang bilang “Rules are pointless so rules are made for break”. Paling tidak, salah satu contoh lagi ada yang bilang “ah itu kan cuma peraturan, paling juga nanti orang lupa karena kebanyakan yang melanggar.”
Kebanyakan sih seperti itu, apalagi situasi pemerintahan yang masih labil. Banyak peraturan dibuat tapi cuma sedikit yang mendapat tindakan tegas dari aparat atau pemerintah, minimal tindakan dari warga yang sadar betapa pentingnya peraturan.
Oke, kita andaikan saja dengan serial Doraemon, ketika Nobita dkk main kasti di lapangan yang letaknya mepet rumah bapak pemilik pohon bonsai. Tiba-tiba bola melambung dan ‘PRAANG’ kaca pecah si pemilik keluar. Nobita pun jadi kambing hitam untuk mengambil bola tersebut dan mengganti kerugian. Kalau pemilik rumah terus-terusan membiarkan Giant dkk (plus si kambing hitam nobita) memecahkan kaca atau pot bonsainya, maka tidak ada raut wajah ketakutan dari anak-anak itu. Minimal, rumah tersebut bisa diajak kompromi dan bola pun kian hari bisa membuat seisi rumah amburadul.
Sabuk pengaman salah satunya, mulanya di Inggris pada awal tahun 1995 dimana sabuk pengaman wajib digunakan oleh pengendara mobil. Konon, Lady Diana pernah ketangkep polisi gara-gara lupa pasang seatbelt. Lalu menyusul peraturan sabuk pengaman, peraturan dilarang merokok di tempat umum. Ada lagi, peraturan tentang tidak buang sampah sembarangan di Indonesia pada era suharto dengan moto ‘GDN alias Gerakan Disiplin Nasional’. Semua peraturan Inggris dan Indonesia rata2 mirip cuma pemberlakuannya aja yang beda. Di Indonesia bagaikan kaca jendela yang sudah pecah sana-sini akibat tangan tak bertanggung jawab. Jadi, pemerintah dan tentu dengan dukungan warga menyadari kalau peraturan yang berupa jendela tersebut nyaris pecah semua. Namun, sadar sih sadar… tapi apa tindakannya pada jendela yang merupakan ventilator udara, pembuka jalan radiasi matahari yang hangat, jendela yang membuka mata kita untuk tidak jenuh menatap ruang di sekeliling kita.
Jadi, kalau jendela rusak, apa guna si jendela itu. Kalau seatbelt dan polisi pun ada, maka apa guna pelindung diri yang dibuat mahal dari pemilik pabrik kecuali jadi barang rongsokan suatu hari nanti. “Ah, siapa sih yang buat peraturan itu? Cuma manusia juga bukan Tuhan”. Kalau peraturan manusia yang buat saja, aparat sering marah bagaimana peraturan yang dibuat Tuhan kalau kita melanggar? Pasti IA lebih marah kan? Allohualam…
-Sambil Iseng Menyalurkan Ide-

