Promise Is Promise… April 6, 2009
Posted by lil4ngel5ing in Sosial, humanity.5 comments

“Janji yah!”
“aku akan menunggumu di kedai ini meski sampai 1000 tahun lamanya”
“Aku ingin pergi bersama mu kemanapun kau berada”
“janji yah!” Pria itu mengangguk, meskipun hatinya bingung. Bagaimana kalau ia tertangkap oleh ronin sewaan puri himeji. Bagaimana kalau ia tak kembali. Pria itu lalu meninggalkan wanita berhati besi dan setia itu di bawah jembatan.
Tiga tahun pun berlalu, pria itu lupa akan janjinya. Baginya janji yang dulu hanya janji seorang anak ingusan yang menjelang dewasa. Ia tinggalkan wanita itu, meskipun ada perasaan bersalah yang selalu menggelayuti dirinya. Ah, Seperti itu kiranya percakapan dua insan manusia yang ingin lari memerdekakan diri dari kungkungan masyarakat terlalu konservatif. Tapi janji, tetaplah janji… Kadang kita dengan mudahnya berjanji, tanpa ingat kapan harus menepatinya. Bukannya tidak ingat, tapi tidak pernah tahu, persoalan apa yang dihadapi ketika akan menghadapi janji-janjinya. Membuat janji itu berkeliaran, berlari menjauhi diri kita.
Whuuh, Sulit rasanya berjanji apalagi didera rasa yang berkecamuk
Sudah lebih dari 40 hari belum yah?
Kok kayak orang sudah meninggal aja, mesti menghitung hari.
Yah, yang menghitung janji bukan hanya yang dijanjikan, tapi juga yang menjanjikan.
Bayangkan saja, setiap detik kita bertambah tua, jaringan epidermis mulai tebal. Ah, penimbunan lemak sana sini di tubuh ini. Ketampanan dan kecantikan mulai sirna. Orang berlomba-lomba memperbaiki kulitnya agar tampak selalu muda. Janji, kita sering berjanji. Kadang menepatinya, kadang kita lupa akan janji itu. Saya pernah berjanji, berjanji pada diri sendiri. Tapi kenapa sering tak ditepati?
Memang sulit berjanji, apalagi berjanji pada Tuhan YME. Berjanji untuk belajar banyak dari hidup. Mulanya kupikir hidup itu hanyalah satu titik dan tak bercabang. Meraih ilmu hanya untuk komersil semata, tapi ternyata tidak. Ilmu pedang bukan melulu soal belajar pedang, mungkin cangkul, sekop, pupuk, alam, bisa jadi ilmu pedang. Baru beberapa hari lalu saya berjanji, janji saya yang harus ditepati.
Apalagi para pemimpin dunia? mereka banyak berjanji juga ingkar janji… bagaimana hitungan janji-janji mereka di alam sana? Ah Aku tak tahu… Ngerinya jadi pemimpin.. menanggung banyak janji – janji palsu… Iklan atau advertising juga begitu, yah.. Saya juga banyak berjanji pada masyarakat melihat pekerjaan saya sebagai public speaker… Padahal kita sendiri sulit berjanji biarpun sedikit.
Tapi, karena teman, kami saling mendorong memberikan semangat. Semangat untuk memenuhi janji kami. Meskipun tidak kelihatan, tapi saya berjanji tetap dalam hati dan mencoba sekuat upaya untuk menepatinya.
“Yeah, what ever they say, it’s a part of your life. Just do it by yourself, life sometimes cruel but it’s gonna make you to be a happiest woman in this world. Just patient while you being in trouble. Believe what you dream it’s gonna be come true even it’s hard”
-Thank’s 4 ur support friends-
06 April 2009
3 Days Left b4 Indonesian Election
-ANGGIE DAVEY-
The Sesame Street is “jalannya anak-anak” Februari 11, 2009
Posted by lil4ngel5ing in Renungan.8 comments

Ini adalah A, A untuk angin atau ini W, W untuk Wind. Birdie menghitung jalan menuju ke kediaman monster coockie yang cuma bisa nyengir. Bocah-bocah dalam rumah tertawa dalam hitungan detik. Jalan sesame waktu itu membuat bocah-bocah seperti kami belajar banyak hal. Dari mulai mengitung kancing, memasang tali sepatu, menulis huruf A sampai Z dan segala hal di luar jangkauan anak-anak yang diam manis menatap dunia televisi.
Bahkan, beberapa teman, ia belajar bahasa Inggris dari tontonan Sesame street. Apakah sudah bakat alam atau ia seorang yang pandai, ia dapat berguru dari media apapun dengan cepat dan tentu juga tangkas. Kini jalan sesame itu muncul lagi, dalam versi bahasa Indonesia yang rasanya tak sebagus bahasa si empunya. Rasanya, dua kebudayaan timur dan barat dengan peraturan kebebasan yang berlainan ditonjolkan dalam dunia fiksi seperti itu. Entah kenapa saya lebih suka yang barat punya, negara ini sudah cukup disinari oleh tawa anak-anak lewat petualangan si bolang, laskar pelangi yang ceria di tengah beban hidup. Mereka hidup di alam bebas tanpa imajinasi si boneka warna-warni. Apakah sempit pikiran saya, mungkin saja iya. Bagiku tetap janggal.
Masa kecil itu penuh gelak tawa, tak peduli kadang derita orang lain atau derita kita menyambangi. Walaupun efeknya kala kita akil balig tetap terasa ada sesuatu yang tak beres di masa kecil kita. Wajah-wajah kami memang kelihatannya polos, tapi memori kami tentang sesuatu yang membuat sebuah luka ternganga dengan bekas luka yang telah kering tetap menimbulkan emosi yang berbeda sampai kapanpun.
Jalan sesama itu ibaratnya hanya sebuah vase dalam kehidupan. Itu jalan yang harus dilalui semua orang, jalan yang mengubah seorang anak yang kelak Akhirnya juga akan memiliki seorang anak. Anak yang belajar dari mulai nol hingga berwawasan. Jalan dimana ada masalah, pemecahan masalahnya yang berlainan. Sama halnya dengan membuat sebuah kue yang akan dimakan si monster coockies yang doyan semua jenis kue. Kue yang enak, dibuat dengan cita rasa sepenuh hati meskipun peralatan yang dipakai sangat sederhana. Tapi bila dibuatnya dengan rasa kasih sayang akan menimbulkan efek lezat bagi penikmatnya.
Hello Aunty, how are you today? Desember 1, 2008
Posted by lil4ngel5ing in flashback story.2 comments
Dear my lovely Aunt,
Entah kenapa, saya ingat tante saya yang berdomisili di DI Yogyakarta.
Apa mungkin karena saat ini saya sedang bingung, bingung untuk ditolong sebenarnya.
Sssst, saya punya rahasia, kenapa saya ingin ditolong…
Tapi saya tak berani mengungkapkan pada siapa pun. Terlalu takut mungkin ya?
Tapi selama ini, sudah sekian kali IA menolong saya.
Cuma saya sering melupakanNYA.
Berikut kata-kata yang ia ucapkan saat saya menenangkan diri ke kediaman Eyang dan Tante saya beberapa bulan lalu;
Seorang saudara atau teman yang baik adalah membantu kala saudara dan sahabat atau temannya mengalami kesulitan. Namun ia tak pernah mengharapkan imbalan dari orang itu. Jiwanya ikhlas, baginya menolong yang membutuhkan hanyalah serangkaian dari kehidupan. Apabila ia mengharap imbalan, baginya hanya akan ada kesulitan dalam hidupnya. Hanya satu imbalan yang ia harapkan dari menolong, yaitu suatu hari ALLOH SWT menjaga keluarganya dan anak cucunya hingga akhir jaman. (AMIEEN !)
Apa kabar Bulik? Memang betul, menolong orang lain tanpa imbalan rasanya lebih nikmat.
WITH LOVE
-Your lovely niece-
