Hai Bule Welcome to My World!

Namanya Rasyid, ia biasa dipanggil Rasta. Entah kenapa, orang tuanya senang memanggil rasyid dengan nama itu. Padahal kedua orang tuanya tidak mengerti arti nama tersebut. Rasyid alias Rasta pernah memprotes kenapa nama pemberian neneknya harus diubah. “Mak, Pak…. Rasyid ogah ah di panggil begitu” ujarnya setiap kali Bapak dan Emak memanggilnya. Seiring berjalannya waktu, ia jadi terbiasa dan tak lagi protes.

Suatu hari, Rasta kecil duduk termangu di atas loteng rumah, memandang gedebong pisang yang digelayuti buah pisang hampir kuning di kebun sebelah rumahnya. Tiga tahun lalu, kala hari hendak senja ia selalu menunggui bapaknya yang belum pulang mencari duit. Ia sering menunggu bapaknya sambil bernyanyi di loteng tempat yang sama untuk menahan rasa laparnya.

Dahulu, hampir tiap hari ia dan ibunya cuma makan dua kali sehari. Ibunya cuma tukang cuci dan gosok pakaian di rumah seorang wanita kaya bersuamikan mantan napi. Sedangkan, Rasta tidak pernah tau apa pekerjaan Bapaknya waktu itu, hanya saja ia cuma paham bapaknya sering keluyuran sampai berminggu – minggu. Ibunya hanya berpesan pada Rasta untuk selalu menjadi anak yang baik.

Kini, Rasta punya Bapak pengusaha bengkel mobil yang tidak pernah sepi dari mobil yang minta diperbaiki. Usia Rasta kini bertambah dewasa, meskipun umurnya baru akan menginjak 10 tahun bulan depan. Suatu hari saat matahari hendak terlelap, bengkel si Bapak kedatangan tamu istimewa. Seorang Bag Packer kulit putih dari Amerika yang cukup fasih berbahasa Indonesia. Sang Bule hampir kehabisan uang untuk menjelajah kampung demi kampung di Indonesia. Rasta dan keluarga selama ini belum pernah kedatangan tamu seperti si Bule itu.

Si Bule datang tak di undang, menawari dirinya untuk dipersilakan menginap di rumah keluarga sederhana itu. Si Bule juga menawarkan jasa montir selama seminggu untuk menyambung hidupnya di Indonesia. Si Bule meyakinkan keluarga itu ia pernah jadi montir freelance sewaktu di Australia. Si Bule meminta gaji cukup lima puluh ribu sehari dengan jaminan ‘mobil orang’ bisa beres. Dan satu lagi, ia menyebut namanya adalah Luis.

Memang dasar kebanyakan orang Indonesia, Pak Mamat alias bapaknya Rasta langsung percaya kepada si Bule. Kepercayaan Pak Mamat dibuktikan dengan kemampuan Luis yang mampu memperbaiki mobil yang terganggu mesinnya.

Niat seminggu tinggal di rumah keluarga itu, Luis minta perpanjangan waktu karena uang yang terkumpul belum cukup. Alhasil, kedatangan si bule seperti topeng monyet yang dikerubuti anak kecil. Keberadaan Luis menjadi pemandangan tersendiri dan daya pikat penduduk sekitar. Kesempatan tersebut tentu membuat keluarga tersebut kebanjiran rezeki. Apalagi semenjak ada Luis, banyak gadis di kampung tersebut jadi rajin mengaji karena bengkel Mamat bersebelahan dengan masjid.

Seminggu lebih Luis tinggal di rumah itu kejadian tak terduga pun terjadi. Suatu siang ketika rumah Mamat sepi, Luis diam – diam mengambil mobil pelanggan yang minta diperbaiki. Mobil itu cukup bagus dan bermerek. Sialnya, Luis tidak sadar Rasta yang sedang tidur pulas dalam mobil itu. Ketika Luis sampai di pasar, ia begitu terkejut melihat Rasta ikut terbawa. Segera, Luis berniat menculik Rasta.

“Mister Luis, ngapain gue dibawa ? kok kita ada di pasar Cibitung sih ?! Pake mobil orang lagi” ucap Rasta sambil menguap. Luis panik bukan kepalang merasa dirinya ‘kepergok’. Luis panik bukan main dan membuatnya mengakui perbuatannya.

“Heh! ngapain you di sini !” Teriak Luis.

“Tadi gue mainan ini mobil pura – pura nyetir, ngantuk ya terus gw tidur !! abis kapan lagi ngerasain mobil bagus… Mister sendiri ngapain ni mobil dibawa – bawa… ini mobilkan mau diambil siang ini !?” Rasta jadi curiga, keringat kepanikan Luis berjatuhan, wajahnya memerah.

“heh, mister nyuri mobil ini ya !”

“Pencuri ! Maling ! Garong !” teriak Rasta membuka salah satu jendela belakang mobil. Beberapa orang di luar memperhatikan Rasta tak mengerti. Luis menarik Rasta ke bangku depan dan mengunci jendela secara otomatis.

“Mulai saat ini, you jadi sandera saya ! kalau tidak, you saya buang ke kali atau ke sumur atau ke laut ! you tau, saya mau go home ke Australi… ini mobil mau saya jual berapa saja buat ongkos pulang… kalau you berani macam – macam awas aja you ! Understand !” ujar si bule mengancam.

“Hah !!!!” hati Rasta mencelos, Rasta mengangguk terpaksa, ‘bagaimana ini’ ujarnya dalam hati. Pasar Cibinong sudah cukup jauh dari kediamannya. Untungnya, Bapak Rasta dulu sering mondar – mandir ke pasar ini.

‘dasar lo bule kere, liat aja gua kerjain!’ ujar Rasta pelan. Dengan sisa keberaniannya, ia mencari akal supaya bisa kabur dari cengkeraman Luis. Karena siang hari yang cukup terik dan waktunya makan siang, Luis menyuruh Rasta membeli makanan. Luis mengawasi gerak – gerik anak itu dengan baik sampai ketika ia kehilangan kontrol Rasta yang pergi entah kemana rimbanya. Luis secepat kilat mencari keberadaan anak itu.

Sementara Rasta pergi ke terminal sebelah pasar berteriak – teriak kepada beberapa preman pasar Cibitung yang sedang ‘memajaki’ supir angkot.

“Akang – akang preman sekalian ! Pada kenal sama Mamat Keramat bekas pentolan legendaris preman Cibitung kagak ???!!!” Rupanya Bapak Rasta si Mamat bekas preman.

Kontan saja para preman seperti terkena setrum mendengar nama itu disebut. Suara – suara preman pun bersahutan, sekitar sepuluh orang diantara mereka lalu berkumpul.

“Heh, bukannya lu anak si Mamat?” ujar salah satu dari mereka yang terlihat paling beringas dan menyeramkan.

“Iya, Kang !” ujar agak gemetar melihat para preman itu.

“Bapak lu kenapa tong ?”

“Bapak gua mobilnya dicuri sama bule! Sekarang gw diculik sama tu bule” ujar Rasta singkat jelas padat. Segera ia menceritakan awal mula kejadian sampai ia berada di pasar itu. Para preman yang hingas beringas pun naik pitam. Begitu selesai cerita, sang bule menampakkan batang hidungnya yang super mancung dan dengan raut wajah kemenangan sang bule hendak mengambil anak itu. Rasta pura – pura panik.

“Tolooooong !!!! Akang – akang tuh bulenya !!!! Maling, Garong !!!” teriak Rasta keras – keras. Preman pun tanpa pikir panjang terpengaruh provokasi Rasta. Rasta tersenyum penuh kemenangan.

Luis panik luar biasa, para preman serta – merta mau menangkap Luis, Luis lari terbirit – birit. Untungnya, Mamat sedang lewat terminal Cibitung untuk mengantar angkot yang baru sembuh dari sakitnya. Keberadaan Mamat pun menjadi dewa penolong Luis karena tak jadi digebuki preman pasar.

Para preman menginginkan si Bule digebuki atau main hakim sendiri, untungnya Mamat sedikit bisa meredam amarah para preman meskipun kesusahan karena pemikiran preman yang dangkal. Para preman tetap bersikeras menghakimi warga asing itu. Melihat situasi yang semakin gawat, Rasta lari terbirit – birit menuju kantor polisi terdekat melaporkan peristiwa itu.

Si polisi itu pun segera menuju tempat kejadian. Luis pun merasa sedikit lega. Baru saja sedikit lega, Luis kembali shock, karena mengetahui si polisi ternyata teman dekat si preman pasar yang bapaknya juga mantan pentolan preman Pasar Cibitung. Kalau saja si polisi bukan teman preman pasar, mungkin sudah habis Luis hari itu.

Luis, Rasta dan Mamat kembali ke kediaman mereka ditemani si polisi. Luis tak bisa berucap dan kaku luar biasa karena tak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi. Polisi dan Mamat memberikan pilihan minta maaf lalu bertobat atau menginap gratis di penjara. Mamat dan Polisi menyuruh Luis untuk bercerita siapa ia sebenarnya.

Ternyata, Luis cuma seorang berandalan salah satu kota di Australia yang nekat jadi bag packer karena kepingin menikmati suasana pulau Bali. Luis pun memilih bertobat dan minta maaf. Mamat teringat seorang ustad yang cukup terkenal di daerahnya sedang memerlukan tenaga kerja sebagai supir pribadi.

Mamat menyarankan Luis bekerja padanya supaya bisa pulang ke negara asalnya. Ditemani Rasta dan Mamat, Luis mau tak mau berangkat mencari rejeki untuk kembali ke kampung halamannya. Luis pun bertekad akan mengubah dirinya sepulang dari Indonesia.

“Sebelum memberi pengarahan dan pekerjaan, saya akan memperkenalkan diri saya… nama saya Ustad Fulan…. saya juga dahulu seorang preman, mantan napi kelas berat…. semoga anda sekalian tidak tersesat lagi… AMINNNNN” ujar si Ustad memulai perkenalan dirinya dengan senyum lebar menghias wajahnya.

“WHAAAT THEEE ???!!!!” teriak si bule refleks. Rasta tersenyum lebar, dan si Bule terbengong wajahnya pucat dan tak sadarkan diri beberapa saat. Luis menyadari dan berfikir, ternyata selama ia menjadi berandalan di Australia, ia tak sendirian dan tak pernah merasa dipermainkan.

“Mister – mister…. Welkom to my world… “ ujar Rasta penuh kemenangan.

Iklan