(Mei 1, 2007) home sweet home, waktu lagi ngerjain tugas akhir kampus n ngilangin kebutekan…

Kembang Si Janda

Siapa tahu bayi yang hampir mati kendinginan terapung di kali menjadi terpandai di kelasnya. Siapa tahu gadis yang hampir setiap hari memakai kursi roda itu hasil hubungan gelap. Siapa tega menceritakan bahwa seorang anak yang dibesarkan bukan anak kandungnya. Lalu siapa berani menceritakan aib seorang dihadapan seorang terkasih.

Anak itu bernama Anggrek Bulan, setiap pagi untuk belajar berdiri setelah ditinggal pergi orang terdekatnya. Mencoba berjalan dan menari seperti dahulu. Sewaktu pulang sekolah, Anggrek tertabrak mobil membuat kakinya tidak berfungsi baik selama dua tahun belakangan ini. Anggrek yang pernah diasuh janda setelah dipungut oleh orang sekampung di kali yang deras arusnya.

Kursi roda yang biasa ia tumpangi berdenyit karena karat, suaranya memilukan. Tidak ada lagi sosok seorang ibu yang selalu didambakannya. Ia bangkit dari kursi rodanya, mencoba menari seperti yang pernah diajarkan si Janda yang pernah kerja sebagai sinden. Siti Zulikha, nama janda itu.

Zulihka, janda buruk rupa yang disiksa majikannya sewaktu kerja jadi budak belian. Janda Siti Zulikha hidup jauh dari sanak saudara yang ia kenal, sakit – sakitan seumur hidup setelah berhenti kerja sebagai pembantu. Zulikha, tukang cuci begitu ia panggil si oleh para tetangga berduit.

Sepeninggal Janda Zulikha, Anggrek kerja serba sendiri di rumah kecil hasil jerih payah si janda. Untungnya ibu – ibu tetangga sering datang membantunya. Kakinya tidak lumpuh total, masih dapat berjalan menggunakan tongkat penyangga, tetap saja ia cacat. Zulika si Janda buruk rupa dengan bekas terbakar sekujur tubuhnya, dan Anggrek si Perawan pincang.

Anggrek memanggil Janda Zulika dengan sebutan Emak.

“Mak, kenapa hidup anggrek begini betul ? Anggrek nggak kenal Bapak, Emak cuma bilang Bapak mati ketabrak mobil, Emak juga cuma bilang kita nggak punya siapa – siapa lagi, kenapa Emak begitu tertutup pada Anggrek….” suatu ketika saat si Janda merawatnya dengan kasih sayang. Tapi jawaban si janda cuma diam seribu bahasa atau cuma bilang.

‘tidak usah tanya – tanya lagi, nanti suatu hari Emak kasih tau’

Kini, Anggrek akan tahu apa yang tidak ia pernah ketahui sepeninggal si Janda Zulikha. Sebelum kematian Zulikha, seorang majikan Zulikha bernama A Pao melamar Anggrek dengan iming – iming hidup nyaman dan serba tak kekurangan untuk si Gadi dan si Janda itu. Zulikha tidak serta merta menjual harta terindah yang ia miliki, ia lebih baik berhenti kerja daripada memberikan Anggrek pada seseorang yang Anggrek sendiri tak pernah suka.

Zulikha tak pernah memaksakan kehendak Anggrek, ia cuma berpesan pada gadis itu untuk pandai menapak kehidupan supaya tak menyesal dikemudian hari. Ia tak ingin Gadis itu menderita berkepanjangan seperti dirinya.

“Anggrek iri sama teman – teman disekolah…. mereka punya orang tua, berkecukupan… tapi, Anggrek bangga bisa juara satu dan ngebahagiain Emak yang susah payah cari uang buat anggrek, kenapa Emak juga nggak pernah bilang kalo emak sakit keras……. Mak, Anggrek mau belajar jalan lagi biar Emak bangga..” Ujar Anggrek yang selalu mengatakan hal demikian ketika penyakit Zulikha bertambah keras dan akan menghembuskan nafas terakhirnya.

Anggrek tidak pernah tahu, ia bukan anak si janda. Anggrek yang berusia 17 tahun seharusnya sedang menikmati masa keemasaan seorang gadis. Pedihnya cambuk merangkai masa depannya yang tak akan pernah orang tahu.

Anggrek menerima pinangan A Pao perjaka tua etnis Tionghoa bekas majikan muda Janda Zulikha. Anggrek pun meninggalkan bangku sekolahnya. Menikah untuk melindungi dirinya sendiri, menikah dalam keadaan terpaksa untuk menghidupi dirinya yang sebatang kara. Ia belajar untuk mencintai lelaki itu, dengan syarat ia masih diizinkan mengenyam pendidikan dan masuk islam. Ia sendiri ragu, apakah A Pao akan cinta agama yang selama ini ia jadikan pegangan hidunya. Dan, bukan kali ini A Pao meminangnya.

Sampai tiba saatnya, seorang orang kepercayaan zulihka, seorang ustad, menceritakan lika – liku kehidupan almarhum Zulikha menjelang pernikahan Anggrek. Nasihat terakhir dari Zulikha untuk si Perawan Anggrek Bulan dalam menyongsong masa depan. Sang Ustad juga memberikan surat wasiat untuknya.

Surat yang membuat air mata gadis itu mengalir deras mengetahui keberadaan dirinya. Surat yang diterima menjelang hari kebahagian yang akan dirintisnya bersama A Pao. Surat yang menjadi cahaya pengetahuan apakah benar ia dilahirkan ke dunia ini. Bahwa waktu itu ia hanyalah bayi kecil yang tidak berdosa ditelantarkan oleh orang – orang tak bertanggung jawab. Dan inilah sebuah permulaan hidup.

Dua puluh tahun lalu, seorang anak perawan dijual kepada mucikari oleh bapaknya yang juga seorang mucikari dan ibunya yang pelacur. Ia dijual seharga dua ratus ribu untuk anak berusia 13 tahun. Menjual anak tersebut untuk menutupi utang si Bapak yang tukang judi. Tuntutan membuat gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita liar di kota. Untuk menutupi utang pada lintah darat sebesar dua juta rupiah.

Si Gadis kecil pun sempat mengganti namanya supaya laku dijual untuk para lelaki tak tahu diri. Dijual untuk lelaki yang ditunggu anak dan istri di rumahnya, lelaki muda yang kebanyakan duit, lelaki tua dan ompong yang kesepian, dan lelaki berandalan lainnya. Mereka memanggil gadis itu, Zahara. Ya, Zahara si Oase bagi pria pencari surga dunia.

“Saya Zahara, alias Zulikha…. sungguh capek aku menjadi seperti itu, jadi kuputuskan untuk menjadi istri simpanan seorang pengusaha dari negeri tetangga… memang mungkin ini nasibku, aku menikahi seorang yang salah yang kukira mampu melepaskan belenggu lingkar setan dunia malam. Bukan maksudku mereka dari negeri tetangga bejat semua… Tidak, hampir dari semua kita ini sama seperti mereka termasuk aku… aku tak tahu dimana harga diriku, juga aku tak tahu betapa diinjak – injak kebangsaanku” ujar Zulihka menerawang dengan tatapan kosong kepada si Ustad.

Zulikha menceritakan seluruh apa yang ia rasakan. Hati Zulikha tak sepenuhnya pulih, namun ia telah menemukan kemenangan ia telah kembali ke jalan yang benar.

“Tolong sampaikan kepada anak angkat saya perihal ini ketika ia menikah. Saya memang bukan ibu kandungnya. Tapi cukup sudah saya yang harus menderita…. cukup saya sebagai anak pelacur hina dina, cukup saya sebagai wanita murah, cukup saya sebagai seorang istri simpanan yang menjual dirinya sebagai budak yang bisa dihukum kapan saja dan cukup saya saja menderita lahir batin” Ujar si Janda bercucuran air mata sambil menyerahkan sebuah surat kepada si Ustad.

Entah mengapa, si janda Zulaikha berbesar hati menerima takdir yang menimpanya. Tak lupa juga Zulaikha menyampaikan keheranannya kala bertemu Anggrek Bulan. Anggrek bulan adalah hal teindah yang pernah ia temukan.

Tujuh belas tahun lalu, Zulaikha sempat kembali ke kampung, dengan wajah yang demikian buruk. mencari ibu dan ayah tercinta walaupun telah menjual dirinya demi utang judi. Desas – desus kematian Ibunya ditangan Sang Ayah yang mengira melahirkan seorang bayi bukan dari hasil pernikahan mereka.

Bayi yang dilahirkan tanpa dosa itu pun entah bagaimana ceritanya mungkin dibunuh oleh suami si ibu. Zulaikha kembali bercerita pada Pak Ustad yang merupakan guru spiritualnya setelah dirinya menemukan kebahagiaan sesunguhnya.

“Anggrek Bulan, adalah pemberian nama dariku ketika tidak ada orang yang mau merawatnya. Ketika tidak ada orang yang tahu aku Siti Zulaikha si anak mucikari dan pelacurnya karena berubah menjadi si buruk rupa…. ketika tidak ada orang yang tahu apakah ia adikku atau bukan… aku hanya  ingin merawat Anggrek seperti anakku sendiri. Mungkinkah Anggrek adikku yang dikandung dalam perut Ibuku karena betapa mirip ia dengan Ibu dan diriku.” Zulaikha memang tak yakin dengan apa yang ia rasakan, Dan bunyi surat terakhir dalam surat itu sungguh membuat hati Anggrek merana.

‘Entah siapapun engkau Anggrek Bulan, Adikku atau orang lain yang kuangkat jadi anak. Aku merasa mendapat hadiah terindah dari Tuhan dalam kehancuran hati dan tubuh ini… mungkin kita tak pernah tahu hidup ini seperti apa esok.. tapi jangan lagi menyesali apa yang pernah terjadi’ begitu pesan terakhir yang tertulis dalam surat Zulikha.

Wajah putih terpoles pupur dan gincu manis Anggrek Bulan tercemar oleh asin air matanya. Ia tak sanggup mengucap sepatah kata apapun, mematung sampai penghulu memanggil dirinya mengucap ijab. Bukan sekali ini ia membaca surat itu, puluhan kali sampai terlupa akan pernikahannya.

Jiwanya kini larut dalam nyanyian sinting dan gila dunia orang terdahulu, mencambuk hati dan dirinya menghadapi masa yang akan datang menuju bahtera rumah tangga yang samar – samar. Besok, siapa yang tahu bagaimana hidup ini dan bagaimana ia menjalani dengan hati yang lapang.

ý

Iklan