SUPER market condition…..

Pundi Amal SCTV

Sabtu 15 Desember 2007 lalu saya menyempatkan diri berkunjung ke Muara Baru (JakUt) dalam rangka Pundi Amal SCTV (PAS) yang entah sudah berapa kali diadakan. Tapi yang pasti, yang namanya pundi amal pasti ditujukan untuk masyarakat kelas menengah kebawah atau paling ‘mentok’ masyarakat yang terkena musibah. Berbagai alasan yang dibawa masyarakat untuk rela antri periksa di klinik gratis yang dilakukan oleh Yayasan Obor Berkah Indonesia (OBI). Saya sebagai salah satu panitia yang bertugas membuat dokumentasi (foto) harus turun tangan membantu rekan2 saya yang kewalahan dengan antusiasme masyarakat yang ingin diperiksa gratis. Keluhan yang mereka alami beragam mulai dari gatal2, asam urat, mencret, ketusuk paku sampai cuma mau ‘nyetok obat’ gratis dan mejeng.

Kami panitia mentargetkan seribu tiket periksa gratis habis dan selesai dalam waktu yang ditentukan yakni pukul 10am-5pm plus istirahat. Tapi nyatanya, kami para panitia nyaris tak bisa istirahat akibat para pasien susah diatur dan nggak mau ketinggalan periksa gratis. Saking sumpeknya suasana, panas & bau kami para panitia dari PAS dan OBI sampai mual, pusing dan letih luar biasa. Tiket bukannya, ‘ngepas’ tapi malah kurang banyak, sehingga banyak ‘pelamar’ yang protes dan tidak terima kenyataan kalau tiket habis dan panitia yang sudah mabok liat manusia bergerundel.

Meskipun bau keringat, mabok lautan manusia kami puas dengan antusiasme masyarakat. saya sendiri sampai serak dan pegal2 menangani manusia arogan yang kepingin gratis diperiksa oleh dokter. Kenapa saya sebut manusia arogan? Karena mereka mungkin akan membayar mahal seorang dokter untuk keluhan yang mereka derita. Sementara hari itu dokter tidak dibayar, obat gratis dan masyarakat terlalu sugestif dengan apa yang dikatakan dokter dan mereka membayarnya dengan rela antri berjam-jam dengan peluh. Para pengantri yang rata2 para ibu yang membawa balita pun saling dorong sehingga 10.000 watt tangisan bayi membuat saya pusing. Suara saya yang saya perbesar dengan ‘toa’ tak mempengaruhi ketidaktertiban warga Muara Baru.

Saya sempat berkunjung ke salah satu rumah warga yang sudah puluhan tahun berteman dengan banjir tahunan. Dan sialnya lagi, sekarang ada bahaya mengancam yakni air pasang setiap hari akibat tanggul laut jebol. Malahan di ANTV selama konfrensi UN Climate Change Conference 2007 mengatakan, daerah utara Jakarta akan terhapus dari peta pada 2080.. Mereka hampir tiap hari harus memindahkan barang ke loteng. Air pasang tersebut sudah bercampur dengan limbah pabrik dan sampah2 yang ada di setiap sudut kecamatan muara baru. Ughhh, baunya ampun, itu dalam keadaan belum pasang apalagi kalau air pasang ya?

Saya juga tak melihat ada praktek dokter di kecamatan tersebut. Jadi dokter itu salah satu barang berharga di salah satu lokasi kota Jakarta yang katanya kota metropolit ini. Menurut pandangan saya, para dokter memang hari itu tanpa dengan senang hati membantu warga yang kena banjir. Hanya saja, obat2 yang diberikan disamaratakan untuk penyakit tertentu. Sehingga, timbul pertanyaan dalam benak saya akankan obat tersebut menyembuhkan? Atau hanya menjadi racun yang perlahan merusak organ? Yah, ada pepatah mengatakan ; orang miskin tak boleh sakit…. alasannya karena biaya pengobatan mahal. Jadi, mau tak mau mereka harus lebih survive.

Iklan