Beberapa bulan lalu, ketika saya belum menjadi sebuah pegawai di salah satu perusahan di Indonesia… (hiperbolis deh) saya bertemu dengan seorang lelaki sudah berumur, sebut saja namanya Pak T….  Tubuhnya kelihatan kering sekali, tiap hari ia harus berjalan kurang lebih 20 km. Pakaiannya lusuh, namun kurasa ia termasuk orang yang rapi. Wajahnya ia tutupi dengan topi anyaman bambu yang cukup lebar untuk melindunginya dari terik matahari. Setiap harinya ia membawa 20 buah dodol betawi. Hari itu, tepat jam 2 siang, ia datang membawa dagangannya ke restoran milik keluarga saya. Ia duduk di sudut meja, memanggil saya yang sedang membuatkan minum kepada para pelanggan.

Pak T : Neng, beli dodol saya yah… baru laku dua hiji nih neng, ujar si bapak Tua. Oh, saya boleh minta air minum satu gelas aja?
Saya   : Tunggu nanti saya tanya ibu saya, mau beli dodolnya atau nggak. Emangnya berapa Pak?

Pak T : 7500 aja neng.

Saya pun memberikannya minum, saya tanya ibu saya yang sedang ngobrol dengan para tamunya yang sedang makan siang.

Saya   : Bu, kayaknya dia laper, kasih makan yah ! (ibu saya mengangguk)

Karena Ibu saya keenakan ngobrol dan tidak memberi tahu saya apakah mau dibeli dodol milik si bapak tua atau tidak, si bapak penjual Dodol yang tidak sabar akhirnya memutuskan untuk pergi. Saya bilang ke Ibu saya waktu itu

Saya   : Pak, tunggu jangan pergi dulu! (saya sedang menyiapkan makanan untuknya)

Pak T : ada apa neng? (saya buru2 memberinya satu porsi besar soto ayam)

Saya    : Ini buat bapak… (begitu saya beri ia makan, saya lihat ia menitikkan air mata)

Pak T : Aduh, Alhamdulillah, tadi saya baru selesai shalat dan minta sama Alloh untuk diberikan makanan hari ini. saya sudah tak makan dari semalam… saya laper banget, jalan dari subuh cuma buat cari makan.

Saya   : Memangnya bapak sudah jalan berapa kilo?

Pak T : Nggak taulah Neng, mungkin sudah 20 kiloan. udah muter2 jualan dodol tapi nggak laku2. (hati saya langsung miris)

Ia menghabiskan satu mangkuk soto ayam plus nasi satu piring tanpa sisa. Ia membawa 20 dodol setiap harinya, tanpa mengeluh ia jalani hidupnya apa adanya. selesai makan ia mengucapkan terima kasih, saking sedihnya saya tak sempat berkata banyak dan menanyakan tentang siapa dirinya.

Sekarang, saya tidak tahu keberadaan si Bapak tua tersebut. saya sering iri mengenang dirinya yang giat bekerja tanpa keluh, sedangkan saya? capek sedikit mengeluh, kesal sedikit mengeluh. padahal jiwa dan raga saya tidak seperti si BApak Tua tersebut. Saya berpesan pada pegawai ibu saya untuk menanyakan secara detail si Pak Tua itu kalau ia berkunjung ke Restoran tempat kami. Pak, Tua siapa Engkau? Saya ingin belajar dari engkau supaya selalu mensyukuri apa yang kita dapat…. saya lalu bertanya dalam hati ‘dahulu sewaktu ia muda, seperti apa ia gerangan? apakah ia pernah ikut membela bangsa yang sedang corat marut ini? Ataukah ia dahulu seorang budak belia yang pernah hidup di jaman kolonial belanda dan Jepang? Ah, entahlah, semoga saya dapat bertemu dengannya lagi, dan belajar banyak dari pengalamannya..

Iklan