Dua minggu lalu, selama 5 hari berturut2 saya berkunjung ke Sultra. Tepatnya 175 kilometer dari ibukota kendari, terdapat dusun bernama Dusun Moramo, tepatnya di kecamatan Konawe Selatan. Sayang sekali saya belum terima hasil gambar yang saya ambil disana.

Saat itu, sulawesi baru beberapa tahun menjadi bagian dari NKRI. Atas dasar itu, kerajaan setempat menginginkan Presiden Soekarno untuk mengolah tanah sulawesi agar seimbang dengan teknologi yang ada di pulau jawa saat itu. Mulailah, soekarno mencanangkan program transmigrasi.

Alkisah ada sepasang suami istri yang sudah 15 tahun menikah, tergiur dengan program transmigrasi. Baginya, ia ingin bebas dari menjauhkan diri dari belanda yang masih tidak mau melepaskan ‘nafsunya’ tehadap indonesia. Alasan kedua, ia ingin memiliki tanah yang luas untuk digarap. Selama ia tinggal di Kutoarjo, ia dan keluarganya hanyalah seorang kecil yang menggarap ladang hanya untuk kaum priyayi. Perjanjian pun dibuat, satu kepala keluarga dihadiahi tanah sebesar 2 hektar dengan harga kurang lebih 250 rupiah/hektar saat itu.

Sebut saja Surtinah dan Karto, sepasang suami istri yang ingin meningkatkan kehidupan mereka di tanah yang sama sekali belum ia ketahui medannya. Bersama puluhan pasangan suami istri lainnya, mereka pergi merantau ke negeri bekas kerajaan Bone dan Buton tersebut. Berbekal pakaian, makanan kering, perkakas seadanya serta uang dari pemerintah sekitar 1000 rupiah/kepala keluarga mereka pergi.

Tiga orang anak mereka, tidak ingin mengikuti langkah orangtua mereka. Mereka tetap menetap di Kutoarjo tercinta bersama paman, bibi, kakek dan nenek mereka. Pemerintah pun membuatkan fasilitas terbaik saat itu seperti aspal yang hingga kini masih ada meskipun sudah tak layak pakai. Selain itu, rumah dan lahan hutan yang belum resmi dibabat sebagai lahan perkebunan dan sawah.

Sisa-sisa kejayaan transmigrasi masih terlihat dengan jelas kala saya pergi menelusuri desa tersebut. hanya sayangnya, pemandangan selama menuju Moramo, harus dirusak dengan penambangan batu marmer oleh pemerintah dan rakyatnya sendiri. ‘Bakrie Group’ telah membelah bukit setinggi kira 250 meter. bukan satu bukit saja, puluhan bukin terkoyak akibat penambangan marmer. Mungkin saja si bukit berkata ‘manusia, saya bosan dan tersakiti olehmu. Andaikan saja saya kulitmu apa tak pernah merasa sakit diiris oleh traktor-traktormu berbunyi sangar’.

Moramo terkenal dengan air terjunnya yang berkolam2 layaknya tangga di setiap anak tangganya dan tanpa ikan. Airnya banyak mengandung sulfur dan alkali. Batu-batu air terjunya pun banyak yang tak ditumbuhi lumut bewarna hijau. Sekilas tampak batu-batu bewarna hijau, tapi tak licin bila tersentuh kulit. Warnanya seperti batu giok, sedangkan airnya bewarna biru kala terbias cahaya matahari, dengan pasir lumpurnya bewarna keemasan. setiap kolam dibatasi dinding setinggi 4 meter. ‘Ya Tuhan, betapa cantiknya wajah bumi yang kau cipta ini’ pikirku setiap saat.

Dahulu kala, dipercaya sebagai tempat mandi para bidadari dan putri-putri yang jelita. Seorang prajurit Belanda lalu mempopulerkannya terhadap masyarakat luas yang belum mengetahui. Airnya tak bisa diminum langsung sbelum direbus, tidak panas seperti air bersulfur lainnya, sangat sejuk. Namun, semakin kebawah, air kehilangan sifat sulfurnya. Penduduk pun leluasa memakai air dari Sungai moramo.

Di kaki gunung (entah apa namanya) sungai moramo mengalir, menuju air terjun moramo butuh waktu 1 1/2 jam, dan setelah masuk ke dalam kawasan moramo, kita harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer menyusuri hutan yang sudah tidak perawan lagi. Uniknya, penduduk di konawe selatan kebanyakan warga transmigran dari Jawa dan Bali. Mereka bercocok tanam dan berdagang dengan membuka warung dan pondok-pondok kecil.

Saya berenang cukup lama disana, menikmati pemandangan yang tidak ada di Ibukota jakarta. Berusaha menghirup udara sebanyak mungkin saya dapat. Kecipuk2 air dari pengunjung yang jumlahnya puluhan termasuk saya, mereka berenang. Mereka berenang, makan dan buang air disana. Saya berenang, loncat dari atas tebing setinggi 4 meter… ah segarnya.

‘Kotor, Bau, penuh sampah dan tak terawat’ itulah ucapan saya ketika masuk ke fasilitas pengunjung. Ah, Indahnya air terjun tak seindah perilaku pemda yang cuma mau hasil tapi tak pernah merawatnya. Dua jam saya bermain, berenang, melompat dan memanjat dinding-dinding air terjun yang bewarna hijau dan tak berlumut. Ingin rasanya batu-batu itu saya ambil dan saya jadikan perhiasan di tubuh saya.

Saya pun kembali ke mobil, menyusuri kembali hutan yang tak perawan didiringi aliran sungai Moramo. Bersama keluarga saya, saya ingin ‘ngemil’ dan kami membeli ubi rebus. Nikmat memang… Tapi tak senikmat kehidupan si penjual Ubi rebus itu.

Si penjual Ubi adalah seorang nenek berusia 7o tahun, yang menjanda dan tinggal bersama anaknya yang paling kecil. Siapa dia?

Ah, Dia Surtinah janda almarhum Karto yang sudah 40 tahun tak pernah pulang ke kampung halamannya. Sawah dan ladangnya cukup luas digarap oleh si anak bungsu. Warungnya layak gubuk yang cukup bersih dan tertata rapi yang hanya diterangi lampu berbahan bakar minyak tanah. Bukannya tak ada listrik, listrik memang ada meskipuntak sebesar di Jawa. Hanya saja, ia tak mampu membayar listrik. “cukup dirumah listrik itu ada” ujarnya.

Sesekali ia menyesal hidup dalam keadaan seperti itu, jarang tetangga, senyap dan tidak berkembang. Sampai bermimpi ia pulang kampung ke Kutoarjo. Ah, Mbah yang malang…. Ia tak pernah jumpa cucu-cucunya, beberapa tahun lalu ia hanya jumpa dengan dua anak terbesar saat menjenguk dirinya -dua kali saja- selama 40 tahun tanpa pernah melihat cucu-cucunya. Hanya selembar foto ia dapat berjumpa dengan cucu yang tak pernah ia jumpai.

Saya tak tau bagaimana nasib transmigran lainnya, tapi saya pikir hampir semua seperti dirinya. melihat bagaimana kehidupan mereka disana. Mbah Surtinah, ingin mati di desanya meskipun suaminya meninggal di Moramo. Selembar demi selembar uang ia kumpulkan untuk bisa mati dan tak kembali ke Moramo, tapi lembaran uang itu hanya cukup untuk dirinya semata. Anak bungsunya bukan berarti tak pernah pergi ke Pulau Jawa, si bungsu pernah ke Jawa hanya saja hanya cukup untuk dirinya.

Ah, saya jadi berpikir dua kali mondar-mandir ke sulawesi saja 1,6 juta naik pesawat belum lagi kondisi Makassar yang banyak ‘ranjaunya’ alias kondisi cuacanya tidak bagus. Sedangkannaik kapal laut hanya sekitar 100 ribuan. Andai saya tak tinggal di Jakarta saya berikan tiket itu untuknya. Untuknya yang hanya ingin mati di Kutoarjo dekat anak dan cucunya… Suatu hari saya ingin kembali kesana… membawa hadiah tiket kematian senilai 200ribu rupiah perkepala… mati di halaman sendiri….

“hanya beginilah hidup, saya belum mengalami perisiwa seperti kakek dan nenek saya. Ingin rasanya lari ke medan perang untuk memaknai hidup sesudah mati, riwayat yang tak ada habisnya dan pelajaran untuk cucu-cucu kelak.”

Harap dan sesal saat ini dahulu hanya masa SMA tak saya pergunakan menuntut ilmu seperti harapan Orangtua. Kini harapan hanya semoga saya menjadi jurnalis yang berpegang teguh pada etika budaya dan agama.

Note : Serius amat nih nulisnya,….. hahaha tapi ini betul, gak pernah terlupa dari ingatan..

Iklan