At New Tower

Saya menyempatkan diri mampir ke roof’ dan gudangnya SCTV Tower Senayan City. Karena belum selesai, kita para karyawan sering batuk2 karena banyaknya debu yang bertebaran di ruangan kantor. Saya jadi bertanya, bagaimana dengan para kuli bangunan tersebut. Saya pun sempat berbincang dengan mereka, para kuli yang tubuhnya penuh debu.

Saya pun jadi berfikir, mereka hidup di tempat yang penuh debu, tidur sembarangan, kerja tak kenal waktu, kerja serabutan dengan upah harian sekitar 25ribu rupiah.

Kalau saya lihat ke ‘Atas, saya jadi berfikir dua kali. Tanpa mereka kita2 yang sekarang tinggal enak duduk dikantor tidak merasakan debu yang sangat banyak itu. Mungkin mereka bukan orang yang sukses dalam mengejar cita-cita. Kan, mana ada orang mau jadi seorang kuli bangunan? Minimal ia jadi mandor masih mending.

Sementara banyak orang2 yang berseliweran di depan saya, mereka wangi, cantik dan ganteng, pandai membawa diri dalam bisnis perusahaan. Namun, business is business mereka biasanya banyak yang tidak peduli akan nasib orang. Tergantung dari orang itu sih. Saya ingin suatu hari bisa sukses, karena saya termasuk orang yang ingin selalu goal dalam project hidup saya ‘pokoknya mesti begini’ meskipun pada akhirnya kadang suka gerutu2 dikit. Tapi toh selama ini demi kebaikan dan kemajuan diri, saya selalu diberi jalan oleh YANG MAHA KUASA. Amiennn…

Tanpa sadar kami sudah tidak menghargai kerja para kuli bangunan itu. Mereka memang pekerja kasar, tapi tidak sepatutnya dikucilkan(atau mereka merasa rendah diri). Karena kami berkantor di area yang belum jadi 100% pembangunannya, dari mulai direktur sampai kondektur (bus antar jemput karyawan) pun sering hilir mudik di gedung. Para buruh bangunan biasanya hanya menundukkan wajah bila bertemu mereka yang wangi2 itu. Walaupun ada juga yang super genit (beberapa orang) yang tak bisa lihat barang wangi dan mulus sedikit.

Lift di gedung baru ada 4, namun yang baru dapat dimaksimalkan baru dua. Karena karyawan yang menempati gedung tersebut sudah cukup banyak, lift pun harus berdesak2an. Karyawan kadang harus bersama para buruh naik lift. mereka business man and womenlangsung menutup hidung, melototi para buruh itu…. Malah ada yang jauh2 dan risih.

Padahal mereka bilang, semua manusia setara, cuma ahklak dan budi yang membedakan mereka. Tuhan pun juga bilang begitu, saya toh bukan orang yang suci seperti para nabi dan isteri mereka yang sholeha…

Orang tua mereka pasti tak ingin anaknya terlihat seperti itu, mengarungi bangunan2 dengan penuh peluh dan debu. Hanya saja, mereka butuh biaya yang halal untuk menyambung nyawa. Mereka pun rata2 kena radang paru2, ah kasian… mereka jarang menutupi wajah mereka dengan masker, ah, jangankan masker. tubuhpun hanya dengan busana seadanya tak bisa lepas dari debu2 itu. Kadang mereka beol dan pipis di tempat dengan membawa ember… untuk bersama… ah, baunya kalau lewat… tapi mereka tak peduli.. yang penting buang hajat… masa bodoh bau atau nggak..

Ah, hidup.. cuma sekedar numpang lewat, semua orang hidup tujuannya cuma mati.. Kita ingin maju, maka melihat keatas bagaimana orang yang wangi2 itu bekerja menggunakan otak mereka. Tapi, bagaimana mengukur sebuah kesuksesan jasmani maupun rohani… Si buruh itu, hanya ditakdirkan untuk tidak mampu sampai menutup mata meskipun sebagian dari mereka nantinya entah menjadi apa..

Ah, saya kadang kurang puas diri karena telah tercukupi oleh materi yang ada di dunia ini. padahal, masih ada yang lebih menderita di bawah saya. Mereka tetap bersabar… Ah, ya sebagian atau banyak dari mereka sukses dalam kesabaran mungkin. Tak ambil pusing dibilang kuli, bau, tak berpendidikan, kasta kecil dan semua2 yang mejatuhkan harkat dan martabat mereka oleh kaum yang wangi2 itu.. “yang penting bisa makan dan hidup” ujar salah satu dari mereka merenungi nasib di tepi jurang gedung seperti hendak melompat saja… “saya nikmati dan capek” ujar si Mas buruh menerawang langit luas…

Iklan