Im Impressed

Saya terpesona dengan banyak orang yang menghiasi hidup saya. Begitu banyak orang2 muda yang menapakkan kakinya dipercaturan dunia dari mulai sosial politik sampai dengan olah raga. Namun banyak pula yang tidak tahu betapa beruntungnya mereka menjadi orang yang sukses sehingga mereka lupa menjejakkan kaki kembali ke tanah. Ah, saya ingin seperti mereka bisa terbang tinggi melihat dunia dengan kepakan sayap pemikiran yang realistis namun juga tak lupa kepadaNYA. Tapi seringkali kita mencurangiNYA.

Ada jenis orang yang pandai merayu, tapi ketika bertatap dengan seseorang, orang tersebut hanya yakin dapat pengaruhi orang lain dengan gaya bicara apa adanya. Namun juga bukanlah orang yang pandai berdagang maupun bersandiwara di atas panggung kehidupan yang peluh. Mungkin saja sebagian dari manusia2 yang fenomenal itu bisa mempengaruhi orang lain dengan kata-kata yang boombastis.

Tak pandai bicara, tapi pandai merasakan kehadiran sesuatu yang janggal dalam hati. Pikiran saya sudah terbang jauh entah kemana memikirkan sesuatu yang mendunia. Sangat kritis tapi tak mampu kadang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin hanya canggung, sebagai gadis muda yang belum tahu banyak tentang hitam putih dunia. Belum banyak berilmu, semakin saya melihat ke atas orang2 sukses itu hati saya semakin sedih. “Ah, mengapa mereka bisa sepandai itu? Akankah saya seperti dirinya yang syarafnya dipenuhi pengetahuan.

Mungkin juga seorang yang melankolis, terlalu tersentuh hatinya bila melihat orang lain yang kesulitan. Ah, betapa beruntungnya saya, diciptakan saya dalam bentuk seperti ini. Meskipun makna kehidupan saya belum dapatkan. Dalam renungan malam selama bertahun-tahun yang sering menjadi pertanyaan adalah “apalah gunanya saya ini di hadapanMU TUHAN? Saya hanya manusia kecil dihiasi lumpur dosa yang kelam” Andaikan saya dapat seperti halnya Tsun Zu jendral besar dari Cina dengan hidupnya yang sederhana. Ataukah si pemersatu dari Jepang yang terkenal luwes di mata siapapun Toyotomi Hideyoshi. Hei, saya terpesona dengan jungkir balik kehidupan seorang samurai ‘belel’ Musashi Miyamoto yang membaktikan dirinya menjadi seorang guru sampai menutup usia.

Atau seorang Salahuddin yang baik hati dan murah hatinya. Ataukah bisa saya menjadi seperti Siti Khadijah, wanita yang menurut saya sangat spesial sangat saya kagumi luar dalamnya. Meskipun sedetik saya tak pernah bertemu dengannya. Ada lagi, oh saya tak mau keburukan mereka yang ingin saya ambil adalah seluruh kebaikan mereka. Ah, Lady Diana yang begitu lembut kepada anak-anak, tak segan ia peluk mereka yang menderita penyakit tak terobati. Mungkinkah Mahmoud Ahmadinejad, Pria kecil anak tukang tempa besi yang berbakti pada orang tua, bangsa dan agama, andaikan ia bisa mengajariku langsung dihadapannya. Ah, ingin mereka menaungi saya ke arah kebaikan yang mereka dapat. Mungkin kejauhan bila ingin bertemu Nabi Besar SAW yang bisa cuma mempelajari dirinya yang tertutup tanah. Tak ada pujian pun tak apa, yang penting keridhaan dari pemilik alam supaya mengerti makna kehidupan yang kadang hampa.

Ah, saya ingat perjuangan para atlet di dunia bagaimana ia ingin mengubah nasibnya jadi lebih baik lagi kala kecilnya tak bahagia. Mereka benar-benar jungkir balik yang sesungguhnya. Atau sedikitnya saya menguras tenaga seperti para kuli2 yang membuat bangunan ini jadi tempat nyaman untuk di tempati. Sedangkan saya apa? Saya sungguh tak mengerti arti sebuah kesuksesan. Seperti apa bentuknya saya pun tak tahu pasti benda abstrak yang satu ini. Namun saya terpesona dengan manusia2 di sekeliling saya. Beberapa teman saya sangat bersahaja, ia sangat kaya raya namun ia tak menampakkan kekayaannya pada siapapun. Baginya, kekayaan itu bukanlah segalanya yang penting membawa diri dalam pergaulan dan mencoba mandiri. Saya sangat menghormatinya sebagai teman dan klien. Saya bangga padanya, andaikan saya dapat sepertinya, tapi saya tak bisa sepertinya.

Dulu, keluarga dan teman mungkin menganggap saya tidak masuk akal bermimpi bertemu dengan orang yang saya suka. Mereka tak tahu pikiran saya selama ini, saya ingin bertemu dan bicara dengannya hanya karena saya ingin seperti dirinya yang dapat memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan. Saya cinta padamu manusia2 pandai. Saya terpesona olehmu manusia-manusia pandai. Andaikan kepandaianmu dapat saya serap seperti saya menyerap Orange juice. Tapi saya lebih terpesona lagi tentang apa yang diciptakan dan apa yang ada di bumi sehingga begitu complicated. Saya Terpesona ciptaanMU YA ALLOH… Saya baru tumbuh dan berkembang menjadi seorang wanita dewasa.

-Saat Belajar di kantor-

Iklan