tik, calon buih…

 

Akan selalu bersama darah ini yang kadang mendidih…

Kulihat buih dari air yang selalu bergerak, tergesek gaya dan daya. Air laut dan air sungai berbuih ketika adanya gaya gravitasi bumi dan sinar matahari yang menimbulkan ombak dan angin. Dengarlah air terjun yang jatuh rasanya tenang sekali. Bunyinya kira-kira dalam pendengaran seperti ini ‘grujukgrujukgrujuk’. Suaranya bagaikan orkestra alam yang dirancang untuk menenangkan hati insan yang terluka. Merdu dan menawan hati, buih alam itu pun mengenai tubuh ini saat mandi di tepi pantai dan dibawah air terjun menutup mata sejenak melepas kepenatan bersama buih.

Saat air laut tercampur garam yang dapat menetralkan unsur acid dalam perut, garam tak mampu menandakan dirinya bersama buih. Buih itu muncul bersama garam, plankton, dan unsur-unsur lainnya yang barangkali berguna maupun jadi racun buat tubuh saat kapal tangker terhempas ke lautan lepas. Buih sungai muncul ketika air tersedot gravitasi bumi dan menjadikannya riam dan riak yang kadang berbahaya bagi penantang maut. Ah, adalah buih dari sisa-sisa sabun yang mampu membersihkan diri dari kuman dan debu yang menempel. Saya melihatnya, buih-buih itu ketika saya mengharumkan tubuh saya, mereka bewarna-warni lalu tertiup hembusan nafasku dan pecah seketika.

Kuaduk air sabunku yang harum semilir seribu satu macam bunga, umur buih melebihi asal usul seribu satu malam milik Qomaruzaman yang terbuai dan tak ingin membunuh istrinya yang cantik. Ya!kita ini bagaikan buih yang bertebaran. Tercipta dengan indahnya dan diciptakan dengan proses yang rumit.

Buih mungkin tak pernah menghargai dirinya sendiri selayaknya kita. Ia kadang pergi bersama, seringkali terpisah oleh deburan-deburan yang tak tentu arahnya. Si buih hanya ikut mengalir bersama air yang ia ikuti. Bagai kita yang selalu mengikuti aliran hidup yang kita pilih.

Buih sabun mungkin paling harum diantara semuanya, tapi saat kutelan dia rasanya pahit dan tak ada enaknya. Rasanya persis ketika kulihat pesandiwara bermain dalam layar kaca penghasil materi yang palsu. Palsu sehingga pahitnya hidup sama manisnya dengan keglamoran semata. Buih yang ikut dengan air dengan natrium klorida beda lagi, ia punya rasa yang asin tapi seperti laut mati yang lempungnya baik untuk kesehatan kulit begitu juga buih yang pergi bersama air heksagonal yang sedang ngetrend saat ini. Saat mereka datang bersama layaknya demonstrasi si kecil yang dihina penguasa. Begitu garang dan berdebur-debur. Tapi bagaimana dengan buih yang dikumpulkan dari air mata yang turun dari perasaan hati kita. Apakah rasanya asinnya tercampur pahit? dengan sebab yang mendesak jiwa kita untuk kadang menjadi lemah.

Kita manusia biasa, biarpun mereka penguasa, ia punya air mata. Tapi mengapa penguasa itu lalim, kadang merasa tak punya air mata yang sering melilit si lemah dan kecil. Manusia yang banyak, terpisah karena takdir dan pilihan hidupnya di dunia layaknya air menghasilkan buih-buih kecil yang terlempar ke sudut-sudut runcing tepi kita berpijak. Si buih lebih renta dari kita, mungkin saja buih menjadi saksi dunia saat punah. Ia begitu kecil, namun begitu perkasa dan timbul saat kita nanti tiada. Ah tak ada yang abadi, dia juga ciptaanNYA.

Office Room

…Wanna Be LikeYou Mr.Smart…

Iklan