Ping melompat, Hop! Kakinya kurus kering. Warnanya hijau klorofil, matanya yang kuning layaknya melotot kearah pohon besar yang tak pernah dapat ia mendaki. “aku ingin bisa sampai pada dahanmu duhai pohon” ujarnya dalam hati. Kakinya memang kecil, siapa sangka lompatannya dua kali atau mungkin enam kali lebih tinggi dibanding para manusia. “KROOOOKK, PANGPUNG, TUNGTUNGTUNG” mereka para katak suka bernyanyi.

Ingin rasanya lari dari kolam, bosan dengan suasana yang begitu-begitu saja. Menjelajah lebih luas dunia yang tak ada habisnya untuk ditelusuri. Kolam yang menjadi tempat tinggalnya saat lahir hingga remaja itu ia tinggalkan. Ikan-ikan, laba-laba air, belut dan semua populasi binatang di kolam itu bertanya ‘mau kemana kau pergi wahai Ping?’ Sebagian besar dari mereka mengatakan itu konyol, tapi tak banyak yang mendukungnya. Ping tetap nekat pergi dari kolam yang tak pernah ia tinggal sebelumnya. Kolam yang memberinya kehidupan lahir dan batin di masa sebelumnya.

Mau kemana, Ping pun juga tak tahu. Ia hanya ingin lepas dari kepenatan yang singgah di kehidupan hari-harinya. Ia harus melewati hutan yang ditumbuhi aneka ragam hayati. Semula ia ragu, tapi keraguan ia tepis. Satu persatu, ia mencoba melompati dan melewati pepohonan itu. Kakinya kecil dan kuat seolah tak pernah kenal rasa lelah demi mencari arti jiwanya yang dijual untuk sebuah pengetahuan. Dan, suatu hari ia bertemu dengan pohon yang gagah dan sulit dilompati. Ia mengeluh, tapi tak sedetikpun keluhannya membuatnya putus asa untuk meraih puncak pohon tertinggi itu.

“Aku, Ping si katak yang suka melompat! Tak boleh ku menyerah sebelum tiba ajalku” kira2 begitulah ucapan Ping. Sampai suatu ketika, dirinya seringan bulu angsa, dan segesit garuda saat menukik indah.

Haloo!

“Ah, aku sampai! Aku sampai !” teriaknya tak percaya. Ia pun melihat langit, ujung dunia yang pernah terbesit di benaknya sekejap sirna menjadi debu-debu bintang. Dunia luas, terpatri dipelupuk matanya saat melihat keindahan di luar kolam. ‘Andaikan mereka dapat melihatnya” senyum Ping penuh kemenangan. Tapi tak pernah ada puasnya ia untuk mencari dahan yang lebih tinggi dan lebih kokoh. Mulai saat itu pun ia terkenal dengan sebutan Ping si katak hijau pelompat pohon.

Mungkin sama halnya dengan kita kaum manusia yang selalu haus akan ilmu yang tak pernah ada habisnya. Tapi, tanpa tekad yang kuat kita mungkin tak akan pernah menikmati masa-masa sulit dan kebahagiaan saat kita berhasil mencapai hal yang belum pernah kita lihat.

“Ah Ping, kau kecil saja bisa seperti itu.. mengapa kami tidak bisa?” suara saya dalam hati. Hanya saja saya bukan orang yang sepenuhnya bersandar pada kesabaran layaknya Ping hijau yang kecil.

-Diambil dari cerita Ping yang hidup di Cina ribuan tahun lalu-

(lupa nama penulisnya)

Iklan