“Buckle Up! Buckle Up!” teriak Rubi pada adiknya Rhet maktu hendak ngebut di film Glass House waktu adegannya dikejar-kejar Paman angkatnya pada akhir tahun 2001.

Hampir tujuh tahun berselang, dengan asiknya saya menyuruh seorang supir untuk menggunakan sabuk pengaman.

“Pak, tolong pakai sabuk pengaman, daripada kena semprit polisi & kalo2 rem mendadak kan kita minimal gak kejedod” ujar saya pada supir yang menghantar saya ke kantor.

“Ah mbak, saya udah mondar-mandir tapi gak ada polisi. Lagipula males pake ini ribet aja gitu” ujarnya sambil tertawa.

“Lha, nanti kalo kecelakaan saya gak mau rugi loh.. belum mau mati nih, belum merit” balas saya berkelakar.

“gak ada polisi mbak, yang penting kita jalannya pelan-pelan” selanya.

“Bismillah aja ya Pak !hehe, pasang ah pak… bukan soal polisi soalnya, ini kan juga untuk jaga diri aja” ujar saya tak mau kalah.

Begitu kiranya percakapan saya dan driver mobil beberapa waktu lalu. Dari percakapan tersebut saya teringat teori dari James .Q Wilson yang menerangkan teori ‘disiplin : kaca jendela pecah’. Kalau seseorang belum kena semprit polisi atau paling tidak ia mengalami kejadian yang membuatnya shock, biasanya peraturan yang dibuat akan sering mengalami pelanggaran. Ada yang bilang “Rules are pointless so rules are made for break”. Paling tidak, salah satu contoh lagi ada yang bilang “ah itu kan cuma peraturan, paling juga nanti orang lupa karena kebanyakan yang melanggar.”

Kebanyakan sih seperti itu, apalagi situasi pemerintahan yang masih labil. Banyak peraturan dibuat tapi cuma sedikit yang mendapat tindakan tegas dari aparat atau pemerintah, minimal tindakan dari warga yang sadar betapa pentingnya peraturan.

Oke, kita andaikan saja dengan serial Doraemon, ketika Nobita dkk main kasti di lapangan yang letaknya mepet rumah bapak pemilik pohon bonsai. Tiba-tiba bola melambung dan ‘PRAANG’ kaca pecah si pemilik keluar. Nobita pun jadi kambing hitam untuk mengambil bola tersebut dan mengganti kerugian. Kalau pemilik rumah terus-terusan membiarkan Giant dkk (plus si kambing hitam nobita) memecahkan kaca atau pot bonsainya, maka tidak ada raut wajah ketakutan dari anak-anak itu. Minimal, rumah tersebut bisa diajak kompromi dan bola pun kian hari bisa membuat seisi rumah amburadul.

pake,nggak,pake,nggak

Sabuk pengaman salah satunya, mulanya di Inggris pada awal tahun 1995 dimana sabuk pengaman wajib digunakan oleh pengendara mobil. Konon, Lady Diana pernah ketangkep polisi gara-gara lupa pasang seatbelt. Lalu menyusul peraturan sabuk pengaman, peraturan dilarang merokok di tempat umum. Ada lagi, peraturan tentang tidak buang sampah sembarangan di Indonesia pada era suharto dengan moto ‘GDN alias Gerakan Disiplin Nasional’. Semua peraturan Inggris dan Indonesia rata2 mirip cuma pemberlakuannya aja yang beda. Di Indonesia bagaikan kaca jendela yang sudah pecah sana-sini akibat tangan tak bertanggung jawab. Jadi, pemerintah dan tentu dengan dukungan warga menyadari kalau peraturan yang berupa jendela tersebut nyaris pecah semua. Namun, sadar sih sadar… tapi apa tindakannya pada jendela yang merupakan ventilator udara, pembuka jalan radiasi matahari yang hangat, jendela yang membuka mata kita untuk tidak jenuh menatap ruang di sekeliling kita.

Jadi, kalau jendela rusak, apa guna si jendela itu. Kalau seatbelt dan polisi pun ada, maka apa guna pelindung diri yang dibuat mahal dari pemilik pabrik kecuali jadi barang rongsokan suatu hari nanti. “Ah, siapa sih yang buat peraturan itu? Cuma manusia juga bukan Tuhan”. Kalau peraturan manusia yang buat saja, aparat sering marah bagaimana peraturan yang dibuat Tuhan kalau kita melanggar? Pasti IA lebih marah kan? Allohualam…

-Sambil Iseng Menyalurkan Ide-

Iklan