promises

“Janji yah!”

“aku akan menunggumu di kedai ini meski sampai 1000 tahun lamanya”

“Aku ingin pergi bersama mu kemanapun kau berada”
“janji yah!” Pria itu mengangguk, meskipun hatinya bingung. Bagaimana kalau ia tertangkap oleh ronin sewaan puri himeji. Bagaimana kalau ia tak kembali. Pria itu lalu meninggalkan wanita berhati besi dan setia itu di bawah jembatan.
Tiga tahun pun berlalu, pria itu lupa akan janjinya. Baginya janji yang dulu hanya janji seorang anak ingusan yang menjelang dewasa. Ia tinggalkan wanita itu, meskipun ada perasaan bersalah yang selalu menggelayuti dirinya. Ah, Seperti itu kiranya percakapan dua insan manusia yang ingin lari memerdekakan diri dari kungkungan masyarakat terlalu konservatif. Tapi janji, tetaplah janji… Kadang kita dengan mudahnya berjanji, tanpa ingat kapan harus menepatinya. Bukannya tidak ingat, tapi tidak pernah tahu, persoalan apa yang dihadapi ketika akan menghadapi janji-janjinya. Membuat janji itu berkeliaran, berlari menjauhi diri kita.

Whuuh, Sulit rasanya berjanji apalagi didera rasa yang berkecamuk
Sudah lebih dari 40 hari belum yah?
Kok kayak orang sudah meninggal aja, mesti menghitung hari.
Yah, yang menghitung janji bukan hanya yang dijanjikan, tapi juga yang menjanjikan.
Bayangkan saja, setiap detik kita bertambah tua, jaringan epidermis mulai tebal. Ah, penimbunan lemak sana sini di tubuh ini. Ketampanan dan kecantikan mulai sirna. Orang berlomba-lomba memperbaiki kulitnya agar tampak selalu muda. Janji, kita sering berjanji. Kadang menepatinya, kadang kita lupa akan janji itu. Saya pernah berjanji, berjanji pada diri sendiri. Tapi kenapa sering tak ditepati?
Memang sulit berjanji, apalagi berjanji pada Tuhan YME. Berjanji untuk belajar banyak dari hidup. Mulanya kupikir hidup itu hanyalah satu titik dan tak bercabang. Meraih ilmu hanya untuk komersil semata, tapi ternyata tidak. Ilmu pedang bukan melulu soal belajar pedang, mungkin cangkul, sekop, pupuk, alam, bisa jadi ilmu pedang. Baru beberapa hari lalu saya berjanji, janji saya yang harus ditepati.

Apalagi para pemimpin dunia? mereka banyak berjanji juga ingkar janji… bagaimana hitungan janji-janji mereka di alam sana? Ah Aku tak tahu… Ngerinya jadi pemimpin.. menanggung banyak janji – janji palsu… Iklan atau advertising juga begitu, yah.. Saya juga banyak berjanji pada masyarakat melihat pekerjaan saya sebagai public speaker… Padahal kita sendiri sulit berjanji biarpun sedikit.

Tapi, karena teman, kami saling mendorong memberikan semangat. Semangat untuk memenuhi janji kami. Meskipun tidak kelihatan, tapi saya berjanji tetap dalam hati dan mencoba sekuat upaya untuk menepatinya.
“Yeah, what ever they say, it’s a part of your life. Just do it by yourself, life sometimes cruel but it’s gonna make you to be a happiest woman in this world. Just patient while you being in trouble. Believe what you dream it’s gonna be come true even it’s hard”

-Thank’s 4 ur support friends-

06 April 2009

3 Days Left b4 Indonesian Election

-ANGGIE DAVEY-

Iklan