Posted by: lil4ngel5ing on: Juni 22, 2009
Hari itu, aku bercengkerama dengan matahari, membakar kulitku yang kuning langsat.
Matahari terik menyengat kulit wajah dan tanganku.
Hari itu, aku bercengkerama dengan matahari yang ekslusif
Hari lainnya, aku bercengkerama dengan matahari kemiskinan
Woods, Iron, Hybrid dengan loft yang berbeda melambungkan bola supaya masuk hole
Beberapa hole yang hanya punya 3 par ada hadiah menarik bagi turnamen amatir
BMW 300i, New honda jazz, rumah mewah di kawasan Bogor, sampai hadiah bernilai miliyaran rupiah bagi yang berhasil mencetak Hole In One
Tapi rupanya sang dukun tak membiarkan peserta yang rela panas-panasan mendapatkan salah satu diantara empat hole in one.
Ada pawang hujan di tepi lapangan golf, lainnya dukun yang tak rela membiarkan hadiah direbut para amatir.
Sirine berbunyi, tanda pertandingan harus diundur karena suara gemuruh di langit.
Rupanya pawang hujan ilmunya tak sukses hari itu. Mungkin cuma ada di Indonesia ada pawang hujan.
Beberapa waktu lalu ‘katanya’ ada pemain amatir tersambar petir. Usai kondisi aman, mereka melanjutkan kembali pertandingan. Panas matahari adalah yang mereka tunggu-tunggu, hujan mereka tak suka.
Permainan Golf cukup menarik, lihat saja para pro bermain cantik. Mengarungi cuaca panas dengan angin, kondisi setiap lapangan yang unik.
Para pemain harus pintar-pintar menggunakan club-nya untuk menempuh jarak dari tee ke green.
Lihat saja kawakan seperti Woods, Cabrera, Nicklaus membelokan bola seperti bolanya punya mata, atau bola meluncur seperti ditarik magnet.
Mereka rela berpanas ria untuk mendapatkan hadiah mulai dari satu juta rupiah hingga satu juta dolar lebih di setiap pertandingan.
Suatu hari, pulang dari kota setelah mengantar kerabat saya kembali ke rumah menggunakan kereta jabotabek.
Saya duduk di tepi pintu, memandangi bocah ingusan, badannya kumal.
Untuk mengusir kesepian di jalanan karena tak ada teman menemani pulang, iseng-iseng saya bertanya padanya.
Anak itu mengingatkan pada hari ketika saya jadi guru bantu di RS. Harapan Bunda bagi anak-anak jalanan pasar Impres Kramat Jati 6 tahun lalu.
“Dik, kamu tinggal dimana?” sapa saya untuk membuka topik pembicaraan.
Ia memakai baju bewarna putih bertuliskan TERIGU CAP SEGITIGA BIRU NETTO 50 KG.
Wajahnya untuk ukuran anak kecil lumayan menggemaskan.
Tapi sayang tubuhnya yang tersengat matahari membuatnya tampak kusam.
“Ah, kasihan sekali” Pikir saya, anak ini demikian miskinnya sampai tak sanggup beli baju.
Anak itu tampak kelaparan, matanya nanar menatap saya penuh duka dan luka.
Seharian ia mengamen, menyanyikan lagu macam Bang Toyib.
Mengais rejeki ditengah terik matahari yang ganas. Ingat, matahari cuma satu besarnya tak lebih besar daripada bintang bernama Betelgeuse, 700 kali lebih besar dari matahari.
Tapi matahari saja sudah cukup untuk membakar bumi kita dengan adanya gurun.
“Nyanyikan satu lagu” pinta saya, ia pun bernyanyi sendu.
Pecahan uang lima ribu bagi saya memang tak berarti kala kantong belum kempes.
Tapi ketika tanggal tua tiba, dan gajian belum datang rasanya lima ribu sangat berharga buat saya.
Memang tak cukup buat beli baju yang ia inginkan, paling tidak bukan bekas karung terigu atau beras.
Uang lima ribu hanya buat beli makan, dan air putih saja barang kali. Atau mungkin bagi anak jalanan lainnya buat setoran ke orang tua mereka.
Ah, tega sekali Ibu atau Bapak yang tega menyuruh anak mereka berbuat demikian.
“Kak, saya haus… udah ya nyanyinya” ujar anak kecil yang tak saya ketahui namanya.
“Panas-panas… gerah…..” ujar si kecil meninggalkanku.
Teringat di hari bahagia lainnya, kebahagian terpancar dari para bapak-bapak yang kulitnya menggelap akibat terbakar matahari.
Toast for wine dari gelas-gelas berkaki mereka berbunyi, diiringi gerai tawa gadis-gadis penghibur.
Lagu sendu mereka berbeda dari kebanyakan yang anak-anak nyanyikan. Jazz sedikit blues, meskipun sedih tapi cuma untuk membuat adem teriknya matahari.
Lagu-lagu jazz riang, kadang musik ajeb-ajeb atau pop melankolis dan kadang riang gembira dinyanyikan para biduanita.
“Mbak Angie, jangan pulang dulu… one wine dulu lah…” kata narasumber saya menyuguhkan manisnya anggur merah yang menyengat di hidung.
“Makasih Bu, saya balik dulu… sudah sore, dikejar skrip soalnya” ujar saya, seraya tertawa.
Ah matahariku…. kau benar-benar membawa sesuatu yang ironis.
Aku hanya berada di tengah mereka, kepanasan bersama si kecil dan Bapak-bapak dengan gelak tawa yang membuatku mendapatkan kerjaanku sebagai kuli tinta dan pelukis kotak ajaib bernama televisi….
Candu, ia adalah candu…
Menulis adalah candu
Dengan telusur data-data yang rumit tapi menyenangkan
Memintal kata hati dan suara-suara yang bergentayangan di benakku…
Mengapa aku menulis kala hati tak tenang, membunuh waktu bengongku…
Untuk sementara melupakan permasalahan.
Tapi aku merasa, cukup bahagia. Kesedihan ini jauh lebih baik dibanding nasib anak-anak jalanan itu…….
Jakarta, 22 Juni 2009
-Kill the time, again-
Posted by: lil4ngel5ing on: April 6, 2009

“Janji yah!”
“aku akan menunggumu di kedai ini meski sampai 1000 tahun lamanya”
“Aku ingin pergi bersama mu kemanapun kau berada”
“janji yah!” Pria itu mengangguk, meskipun hatinya bingung. Bagaimana kalau ia tertangkap oleh ronin sewaan puri himeji. Bagaimana kalau ia tak kembali. Pria itu lalu meninggalkan wanita berhati besi dan setia itu di bawah jembatan.
Tiga tahun pun berlalu, pria itu lupa akan janjinya. Baginya janji yang dulu hanya janji seorang anak ingusan yang menjelang dewasa. Ia tinggalkan wanita itu, meskipun ada perasaan bersalah yang selalu menggelayuti dirinya. Ah, Seperti itu kiranya percakapan dua insan manusia yang ingin lari memerdekakan diri dari kungkungan masyarakat terlalu konservatif. Tapi janji, tetaplah janji… Kadang kita dengan mudahnya berjanji, tanpa ingat kapan harus menepatinya. Bukannya tidak ingat, tapi tidak pernah tahu, persoalan apa yang dihadapi ketika akan menghadapi janji-janjinya. Membuat janji itu berkeliaran, berlari menjauhi diri kita.
Whuuh, Sulit rasanya berjanji apalagi didera rasa yang berkecamuk
Sudah lebih dari 40 hari belum yah?
Kok kayak orang sudah meninggal aja, mesti menghitung hari.
Yah, yang menghitung janji bukan hanya yang dijanjikan, tapi juga yang menjanjikan.
Bayangkan saja, setiap detik kita bertambah tua, jaringan epidermis mulai tebal. Ah, penimbunan lemak sana sini di tubuh ini. Ketampanan dan kecantikan mulai sirna. Orang berlomba-lomba memperbaiki kulitnya agar tampak selalu muda. Janji, kita sering berjanji. Kadang menepatinya, kadang kita lupa akan janji itu. Saya pernah berjanji, berjanji pada diri sendiri. Tapi kenapa sering tak ditepati?
Memang sulit berjanji, apalagi berjanji pada Tuhan YME. Berjanji untuk belajar banyak dari hidup. Mulanya kupikir hidup itu hanyalah satu titik dan tak bercabang. Meraih ilmu hanya untuk komersil semata, tapi ternyata tidak. Ilmu pedang bukan melulu soal belajar pedang, mungkin cangkul, sekop, pupuk, alam, bisa jadi ilmu pedang. Baru beberapa hari lalu saya berjanji, janji saya yang harus ditepati.
Apalagi para pemimpin dunia? mereka banyak berjanji juga ingkar janji… bagaimana hitungan janji-janji mereka di alam sana? Ah Aku tak tahu… Ngerinya jadi pemimpin.. menanggung banyak janji – janji palsu… Iklan atau advertising juga begitu, yah.. Saya juga banyak berjanji pada masyarakat melihat pekerjaan saya sebagai public speaker… Padahal kita sendiri sulit berjanji biarpun sedikit.
Tapi, karena teman, kami saling mendorong memberikan semangat. Semangat untuk memenuhi janji kami. Meskipun tidak kelihatan, tapi saya berjanji tetap dalam hati dan mencoba sekuat upaya untuk menepatinya.
“Yeah, what ever they say, it’s a part of your life. Just do it by yourself, life sometimes cruel but it’s gonna make you to be a happiest woman in this world. Just patient while you being in trouble. Believe what you dream it’s gonna be come true even it’s hard”
-Thank’s 4 ur support friends-
06 April 2009
3 Days Left b4 Indonesian Election
-ANGGIE DAVEY-
Posted by: lil4ngel5ing on: Februari 11, 2009

Ini adalah A, A untuk angin atau ini W, W untuk Wind. Birdie menghitung jalan menuju ke kediaman monster coockie yang cuma bisa nyengir. Bocah-bocah dalam rumah tertawa dalam hitungan detik. Jalan sesame waktu itu membuat bocah-bocah seperti kami belajar banyak hal. Dari mulai mengitung kancing, memasang tali sepatu, menulis huruf A sampai Z dan segala hal di luar jangkauan anak-anak yang diam manis menatap dunia televisi.
Bahkan, beberapa teman, ia belajar bahasa Inggris dari tontonan Sesame street. Apakah sudah bakat alam atau ia seorang yang pandai, ia dapat berguru dari media apapun dengan cepat dan tentu juga tangkas. Kini jalan sesame itu muncul lagi, dalam versi bahasa Indonesia yang rasanya tak sebagus bahasa si empunya. Rasanya, dua kebudayaan timur dan barat dengan peraturan kebebasan yang berlainan ditonjolkan dalam dunia fiksi seperti itu. Entah kenapa saya lebih suka yang barat punya, negara ini sudah cukup disinari oleh tawa anak-anak lewat petualangan si bolang, laskar pelangi yang ceria di tengah beban hidup. Mereka hidup di alam bebas tanpa imajinasi si boneka warna-warni. Apakah sempit pikiran saya, mungkin saja iya. Bagiku tetap janggal.
Masa kecil itu penuh gelak tawa, tak peduli kadang derita orang lain atau derita kita menyambangi. Walaupun efeknya kala kita akil balig tetap terasa ada sesuatu yang tak beres di masa kecil kita. Wajah-wajah kami memang kelihatannya polos, tapi memori kami tentang sesuatu yang membuat sebuah luka ternganga dengan bekas luka yang telah kering tetap menimbulkan emosi yang berbeda sampai kapanpun.
Jalan sesama itu ibaratnya hanya sebuah vase dalam kehidupan. Itu jalan yang harus dilalui semua orang, jalan yang mengubah seorang anak yang kelak Akhirnya juga akan memiliki seorang anak. Anak yang belajar dari mulai nol hingga berwawasan. Jalan dimana ada masalah, pemecahan masalahnya yang berlainan. Sama halnya dengan membuat sebuah kue yang akan dimakan si monster coockies yang doyan semua jenis kue. Kue yang enak, dibuat dengan cita rasa sepenuh hati meskipun peralatan yang dipakai sangat sederhana. Tapi bila dibuatnya dengan rasa kasih sayang akan menimbulkan efek lezat bagi penikmatnya.
Comment aja deh...