jump to navigation

TANPA SYARAT DAN SEDERHANA Oktober 18, 2009

Posted by lil4ngel5ing in Belajar mencinta.
2 comments

wheeww, jump as far as you can... :D

“Kamu tak boleh jatuh untuk yang ketiga kalinya !”

“Ih jorok! Yang bersih, potong kukunya, kuku panjang kata nabi kukunya syaiton…!”

“Ih, kamuuuu makan melulu…. ndut ndut, diet dunk…”

“Aduh, jangan nyerah gitu donk..!”

“Sayangi diri sendiri dong, jangan sampai enggak!”

…………………………………………………oooOOOooo………………………………………………………..

Ucapan itu, aku pikir aku amat cerewet, untuk apa? Hanya untuk kebaikan dirinya…..

……………….

Aku bilang “aku cerewet ya?”

“Ah cerewet itu tanda sayang” ujarnya

“Ih GeEr nih si abang…..”

Ia tertawa HaHaHa, “Mukanya merah tuh”

“Enggak kok, salah tuh orang mukanya jadi ijo begini” balasku, tertawa.

Waktu pertama kali bertemu setelah sekian lama tak bersua, tak pernah saya terpikirkan untuk dekat dengan dirinya.

Aku bercerita, dia bercerita. Tentang sesuatu yang lazim disebut cinta tapi mungkin masih bingung apa artinya cinta. Dua manusia yang sedang patah hati duduk di teras kafe. Bercerita, ringan dengan amarahnya masing-masing.

Saya tipikal senang bercanda, akibat sering bermain dengan mereka-mereka yang memang senang bercanda.

Aku bilang, “Daripada sama mereka berdua, gimana klo gw sama lo aja?” Aku tertawa. Garing sekali tawanya.

Tapi benar Ar, itu hanya gurauan buatku tidak ada perasaan lebih selain teman waktu itu.

Aku tak tahu apa yang ada di benakmu saat itu Ar….

Lalu setelah itu, kami pergi bersama, berdua. Aku ingin menghibur diriku, bersamanya setalah beberapa kali rasanya kepalaku penat dengan segala aktivitas di kantor, di rumah maupun soal urusan cinta.

Sampai kami mulai berceritera masing-masing kehidupan kami, entah mengapa timbul perasaan aneh membuncah dari dalam diriku.

“Biarkan aku membantumu, situasi yang kamu hadapi tak banyak berbeda dengan apa yang aku rasakan bertahun-tahun lalu” ujarku dalam hati.

Seiring membantu orang lain, saya merasakan indahnya hidup dan mendapatkan kebahagiaan.

Meskipun aku sadar seutuhnya kadang tak bisa bahagia. Dan tak berharap kebahagiaan datang secepat kilat.

Ar, ternyata membantumu pulih dari pelarian jiwa membuat diriku semakin kuat. Entah bagaimana denganmu Ar.. Setiap kali juga kau buatku tertawa dengan statusmu di dunia maya untukku.

“My Beiby suka ngelindur ATAU I was born to make you happy ATAU Nge-batman (begadang) with my miel (sayang –france-)” dan masih banyak lagi.

Apakah ia bercanda? Ah aku bingung. Karena aku belum masih memiliki perasaan bahwa ia kadang-kadang cuma bercanda. Tak tahulah saya….

Ia membuatku bertahan lebih baik dari sebelumnya, terimakasih Ar…. Bila suatu hari aku atau dirimu pergi, kekuatan itu akan tetap ada.

Karena aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana sama seperti aku mencintai saudaraku yang lain. Tanpa syarat.

“Cintai dirimu sama halnya mencintai TUHAN mu dengan segenap hatimu, lakukan sesuatu seperti apa kata hati kecilmu. Dengan begitu aku bisa mencintaimu dengan tulus dan sederhana, menemani dirimu seperti yang kau pernah minta”

Aku yakin dirimu akan jauh lebih baik dari sekarang di masa depan. Potensi itu sungguh luar biasa Ar….

WRITTEN ON September 10, 2009

YOU ARE  BRILLIANT!!!

Catatan Harian Seorang Pria Agustus 31, 2009

Posted by lil4ngel5ing in Belajar mencinta, Suasana.
4 comments

doaku

Berapa banyak hartamu untuk membeli sebuah kesabaranku?
Rasanya hatiku benar-benar hancur dibuat menderita.
Segala upaya ku kerahkan untuk bisa membahagiakanmu
Tapi sepertinya tak ada balasan dari dirimu

Mungkin bila tiba waktunya, aku tidak akan pernah peduli lagi
Akan kubiarkan menangis sejadi-jadinya dibawah mata kaki-ku
Ah apa aku tega demikian? Rasanya tidak akan tega, hanya bayangan saja
Aku tak pernah mau memperpanjang masalah, mungkin jalanku harus seperti ini

Cincin itu masih tetap tersimpan, rasanya ingin kubuang atau ku jual
Buat apa, toh dia tak akan pernah tau betapa aku mencintainya
Lebih baik kuberikan pada wanita lain, yang tidak aku cintai
Wanita yang jauh dari harapanku, wanita yang tidak pernah terlintas di benak

Ia datang tiba-tiba, dengan segala ocehannya yang lugu dan kadang mengesalkan
Tapi, ia sangat sayang padaku. Cintanya tulus, lembut seperti embun di pagi hari
Ia cantik dan lucu, kepolosannya kadang membuatku malu pada diriku sendiri
Aku sematkan cincin platina bertahta berlian di jari manisnya

Ia tak pernah tau, untuk siapa cincin itu sebenarnya berlabuh
Tapi pasti ia tahu untuk siapa hatiku berlabuh, pada ia yang hatinya diisi pria lain
Aku dan ia mengikat hubungan hanya karena sesuatu dan bisnis
Wanita cantik dan lucu itu tahu, aku pria yang tak tahu diri barangkali

Sering membentak wanita cantik dan lucu itu hanya karena kesalahan kecil
Ku lihat ia terpengkur di sofa rumah, letih wajahnya manis sekali
Betapa teganya diri ini menyakitinya, ah jangan-jangan aku sudah jatuh cinta lagi
Sepertinya, aku memang jatuh cinta lagi… tapi aku masih enggan mengatakannya

Sebulan, dua bulan, tiga bulan hingga setahun, ia kini membuatku tergila-gila
Aku jadi posesif, posesif tak beralasan. Ia sering kabur bila aku sudah menjadi ‘gila’
Tapi aku tak pernah katakan padanya aku jatuh cinta padanya
Tapi ia tetap seperti dulu, di balik kemarahannya karena sikapku, ia tetap manis

Suatu hari saat cintaku membuncah-buncah, wanita yang lain datang ke hadapanku
Terisak-isak karena pria yang ia cintai jatuh cinta pada wanita yang lain
Ia merajuk di pundakku, sedikit mabuk kepayang akibat minuman keras dan cinta
Aku tak tega, bingung mengapa ia kembali padaku saat seperti ini?

Wanita itu, membuatku bingung, memang masih ada nafas cinta di hatiku untuknya
Ini peluang, cinta itu tak pernah salah. Tapi peluang itu yang membuatku belingsatan
Ah peluang brengsek, mengapa terjadi saat ini. Bagaimana menyikapi peluang itu?
Wanita itu kembali lagi mengisi hari-hariku, aku tahu si cantik dan lucu itu cemburu

Wanita yang mengisi hariku selama setahun lebih itu terlihat sedih
Berulangkali ia pergi tanpa izinku, aku jadi kebingungan dengan apa yang terjadi
Hingga akhirnya aku memutuskan pergi menyebrangi pulau lain berikhtiar pada Tuhan
Semua orang mencariku, aku tak peduli yang penting sepulangnya keputusanku bulat

Malam itu, aku bermimpi, si cantik dan lucu seolah hanya tinggal nisan belaka
Aku terbangun, seperti baru tersambar petir, segera ku kemasi barang-barangku.
Pulang dengan perasaan tak karuan, ada apa dengan dirinya.
Aku tak peduli dengan semua hal keculi ingin melihatnya hidup-hidup

Ku buka rumah itu, tak terkunci, di dalamnya hanya ada ia seorang sebatang kara.
Rumah yang menjadi harta satu-satunya setelah ditinggal kedua orang tuanya.
Kulihat ia duduk melamun di teras dengan gelas berisi air putih di hadapannya
Ia tak mendengarku masuk ke dalam rumah, rumah itu tetap bersih seperti biasa

Ia membalikkan badannya, terkejut menatap wajahku yang sedikit tak terurus.
Ia bingung, tak tahu harus berkata apa, tak lama senyumnya mengembang
“Dari mana saja kamu, tak ada kabar? aku masak tadi, kelihatannya kamu lapar”
Ia berjalan meninggalkanku, mematung sendiri. Ah betapa tulusnya ia.

Aku mengikutinya, lalu duduk di ruang makan. “ayo makan, ini enak kok”
Aku tersenyum, ia tersenyum. Betapa lega hatiku mendapatkan dirinya baik-baik saja
“aku tahu, kamu bingung. Sekarang aku serahkan semuanya padamu” ujarnya
Aku membelalak, tak menyangka ia begitu tenang menyampaikan kegundahannya

Ia melepas cincin pemberianku, ikatan cinta yang palsu dariku
“ini, pada siapa cincin ini berlabuh hanya kamu yang berhak menyematkannya”
Nyaris saja aku tersedak masakannya, aku berhenti mengunyah
“Simpan saja, itu hanya untukmu seorang. Selamanya hanya untukmu”

Ia seolah tak percaya, sampai ku memeluk dirinya dan menangis
Aku minta maaf padanya, menyesali apa yang telah terjadi
Ia tersenyum, “tak apa, aku sudah tahu jawabannya. Aku menantimu seperti ini”
Lalu ia pergi ke luar rumah itu. Entah kemana, aku harap ia baik-baik saja.


“Kamu tidak akan pernah tahu, seberapa besar cintamu hingga orang itu meninggalkanmu” ujarnya lirih

lalu ia pergi menghilang dari hadapanku.

To be Continue to Catatan Harian Seorang Wanita

:)

(Inspired by article, novel & drama)

Jakarta, August 29 2009

Halo Matahariku….. Juni 22, 2009

Posted by lil4ngel5ing in Life Stage, Sosial, humanity.
4 comments

Sun and SonHari itu, aku bercengkerama dengan matahari, membakar kulitku yang kuning langsat.
Matahari terik menyengat kulit wajah dan tanganku.
Hari itu, aku bercengkerama dengan matahari yang ekslusif
Hari lainnya, aku bercengkerama dengan matahari kemiskinan

Woods, Iron, Hybrid dengan loft yang berbeda melambungkan bola supaya masuk hole
Beberapa hole yang hanya punya 3 par ada hadiah menarik bagi turnamen amatir
BMW 300i, New honda jazz, rumah mewah di kawasan Bogor, sampai hadiah bernilai miliyaran rupiah bagi yang berhasil mencetak Hole In One

Tapi rupanya sang dukun tak membiarkan peserta yang rela panas-panasan mendapatkan salah satu diantara empat hole in one.
Ada pawang hujan di tepi lapangan golf, lainnya dukun yang tak rela membiarkan hadiah direbut para amatir.

Sirine berbunyi, tanda pertandingan harus diundur karena suara gemuruh di langit.
Rupanya pawang hujan ilmunya tak sukses hari itu. Mungkin cuma ada di Indonesia ada pawang hujan.

Beberapa waktu lalu ‘katanya’ ada pemain amatir tersambar petir. Usai kondisi aman, mereka melanjutkan kembali pertandingan. Panas matahari adalah yang mereka tunggu-tunggu, hujan mereka tak suka.

Permainan Golf cukup menarik, lihat saja para pro bermain cantik. Mengarungi cuaca panas dengan angin, kondisi setiap lapangan yang unik.
Para pemain harus pintar-pintar menggunakan club-nya untuk menempuh jarak dari tee ke green.

Lihat saja kawakan seperti Woods, Cabrera, Nicklaus membelokan bola seperti bolanya punya mata, atau bola meluncur seperti ditarik magnet.
Mereka rela berpanas ria untuk mendapatkan hadiah mulai dari satu juta rupiah hingga satu juta dolar lebih di setiap pertandingan.

Suatu hari, pulang dari kota setelah mengantar kerabat saya kembali ke rumah menggunakan kereta jabotabek.
Saya duduk di tepi pintu, memandangi bocah ingusan, badannya kumal.
Untuk mengusir kesepian di jalanan karena tak ada teman menemani pulang, iseng-iseng saya bertanya padanya.

Anak itu mengingatkan pada hari ketika saya jadi guru bantu di RS. Harapan Bunda bagi anak-anak jalanan pasar Impres Kramat Jati 6 tahun lalu.
“Dik, kamu tinggal dimana?” sapa saya untuk membuka topik pembicaraan.
Ia memakai baju bewarna putih bertuliskan TERIGU CAP SEGITIGA BIRU NETTO 50 KG.

Wajahnya untuk ukuran anak kecil lumayan menggemaskan.
Tapi sayang tubuhnya yang tersengat matahari membuatnya tampak kusam.
“Ah, kasihan sekali” Pikir saya, anak ini demikian miskinnya sampai tak sanggup beli baju.
Anak itu tampak kelaparan, matanya nanar menatap saya penuh duka dan luka.

Seharian ia mengamen, menyanyikan lagu macam Bang Toyib.
Mengais rejeki ditengah terik matahari yang ganas. Ingat, matahari cuma satu besarnya tak lebih besar daripada bintang bernama Betelgeuse, 700 kali lebih besar dari matahari.

Tapi matahari saja sudah cukup untuk membakar bumi kita dengan adanya gurun.
“Nyanyikan satu lagu” pinta saya, ia pun bernyanyi sendu.
Pecahan uang lima ribu bagi saya memang tak berarti kala kantong belum kempes.

Tapi ketika tanggal tua tiba, dan gajian belum datang rasanya lima ribu sangat berharga buat saya.
Memang tak cukup buat beli baju yang ia inginkan, paling tidak bukan bekas karung terigu atau beras.
Uang lima ribu hanya buat beli makan, dan air putih saja barang kali. Atau mungkin bagi anak jalanan lainnya buat setoran ke orang tua mereka.

Ah, tega sekali Ibu atau Bapak yang tega menyuruh anak mereka berbuat demikian.
“Kak, saya haus… udah ya nyanyinya” ujar anak kecil yang tak saya ketahui namanya.
“Panas-panas… gerah…..” ujar si kecil meninggalkanku.
Teringat di hari bahagia lainnya, kebahagian terpancar dari para bapak-bapak yang kulitnya menggelap akibat terbakar matahari.

Toast for wine dari gelas-gelas berkaki mereka berbunyi, diiringi gerai tawa gadis-gadis penghibur.
Lagu sendu mereka berbeda dari kebanyakan yang anak-anak nyanyikan. Jazz sedikit blues, meskipun sedih tapi cuma untuk membuat adem teriknya matahari.

Lagu-lagu jazz riang, kadang musik ajeb-ajeb atau pop melankolis dan kadang riang gembira dinyanyikan para biduanita.
“Mbak Angie, jangan pulang dulu… one wine dulu lah…” kata narasumber saya menyuguhkan manisnya anggur merah yang menyengat di hidung.

“Makasih Bu, saya balik dulu… sudah sore, dikejar skrip soalnya” ujar saya, seraya tertawa.
Ah matahariku…. kau benar-benar membawa sesuatu yang ironis.

Aku hanya berada di tengah mereka, kepanasan bersama si kecil dan Bapak-bapak dengan gelak tawa yang membuatku mendapatkan kerjaanku sebagai kuli tinta dan pelukis kotak ajaib bernama televisi….

Candu, ia adalah candu…
Menulis adalah candu
Dengan telusur data-data yang rumit tapi menyenangkan
Memintal kata hati dan suara-suara yang bergentayangan di benakku…
Mengapa aku menulis kala hati tak tenang, membunuh waktu bengongku…
Untuk sementara melupakan permasalahan.
Tapi aku merasa, cukup bahagia. Kesedihan ini jauh lebih baik dibanding nasib anak-anak jalanan itu…….

Jakarta, 22 Juni 2009

-Kill the time, again-