Dear Diary…. Desember 23, 2009
Posted by lil4ngel5ing in Life Stage, Saya.add a comment
Aku buka kembali buku harian hijau berlukiskan huruf arab dengan tinta emas yang gemulai di sampulnya. Buku itu sudah cukup lama mendampingi setiap langkahku.
Mulai dari seorang anak berusia 14 tahun hingga harus ku akhiri sampai berusia 21 tahun lebih 3 bulan. Akhirnya aku membeli sebuah buku harian yang cukup sama tebalnya dengan buku itu.
Buku hijau itu pemberian Bapakku, di dalamnya terdapat rekaman kehidupan anak gadis yang mulai dewasa. Mulai dari pacaran yang ngumpet-ngumpet, sumpah serapah, puisi roman picisan, hingga rasa benci yang kini amatku sesali.
Bagiku, kita tak akan pernah dapat menebak cerita apa yang terjadi kedepannya. Yang kita harus lakukan bagi seorang manusia mungkin adalah menuliskan buku harian dunia dengan lika-liku kehidupan. Mau menjadi orang baik-baik, agak baik, sedikit baik, bahkan buruk.
Kita punya akal yang selalu dapat memberikan nuansa pada buku harian yang dilihat dari sudut masing-masing individu mengenai suatu masalah. Inilah jawaban yang aku temukan sedikit dari dalam lembaran kehidupan itu, esok – esok aku belum tahu apa yang akan terjadi.
Aku hanya menanti dunia membawaku dan bersedia kujadikan tanahnya sebagai tempat sejarah. Hidup itu dari sebuah kekosongan pengetahuan hingga terisi dengan pengetahuan dan realitas. Persis seperti buku harian yang selalu menyimpan sebuah perkara paling berpengaruh dalam hidup seseorang, tentu bagi yang rajin menulis diary.
Buku harian, adalah jurnal, aku menjadi jurnalis bagi kehidupanku sendiri meskipun sedikit bagi orang lain. Jurnal-jurnal itu menjadi sejarah dalam dunia. Wajahku mungkin juga tak secantik kaum kaum kaukasoid yang putih dan berparas cantik dalam pemilihan ratu-ratuan.
Tapi aku ingin menaruhkan cerita-ceritaku pada anak-anakku kelak dengan kasih sayang yang tulus. Tak lupa, kuberikan nafas bagi buku harian hijauku satu halaman kosong terakhir, paling belakang agar aku bisa bercerita inilah saat aku menjadi seorang istri dan calon ibu agar ia tak ketinggalan berita paling penting buatku dimasa depan.
-Ditulis pada Oktober 2008-
(Diambil sebagian dari buku harian saya yang berjudul Melukis Dengan Mata)
TANPA SYARAT DAN SEDERHANA Oktober 18, 2009
Posted by lil4ngel5ing in Belajar mencinta.2 comments

“Kamu tak boleh jatuh untuk yang ketiga kalinya !”
“Ih jorok! Yang bersih, potong kukunya, kuku panjang kata nabi kukunya syaiton…!”
“Ih, kamuuuu makan melulu…. ndut ndut, diet dunk…”
“Aduh, jangan nyerah gitu donk..!”
“Sayangi diri sendiri dong, jangan sampai enggak!”
…………………………………………………oooOOOooo………………………………………………………..
Ucapan itu, aku pikir aku amat cerewet, untuk apa? Hanya untuk kebaikan dirinya…..
……………….
Aku bilang “aku cerewet ya?”
“Ah cerewet itu tanda sayang” ujarnya
“Ih GeEr nih si abang…..”
Ia tertawa HaHaHa, “Mukanya merah tuh”
“Enggak kok, salah tuh orang mukanya jadi ijo begini” balasku, tertawa.
Waktu pertama kali bertemu setelah sekian lama tak bersua, tak pernah saya terpikirkan untuk dekat dengan dirinya.
Aku bercerita, dia bercerita. Tentang sesuatu yang lazim disebut cinta tapi mungkin masih bingung apa artinya cinta. Dua manusia yang sedang patah hati duduk di teras kafe. Bercerita, ringan dengan amarahnya masing-masing.
Saya tipikal senang bercanda, akibat sering bermain dengan mereka-mereka yang memang senang bercanda.
Aku bilang, “Daripada sama mereka berdua, gimana klo gw sama lo aja?” Aku tertawa. Garing sekali tawanya.
Tapi benar Ar, itu hanya gurauan buatku tidak ada perasaan lebih selain teman waktu itu.
Aku tak tahu apa yang ada di benakmu saat itu Ar….
Lalu setelah itu, kami pergi bersama, berdua. Aku ingin menghibur diriku, bersamanya setalah beberapa kali rasanya kepalaku penat dengan segala aktivitas di kantor, di rumah maupun soal urusan cinta.
Sampai kami mulai berceritera masing-masing kehidupan kami, entah mengapa timbul perasaan aneh membuncah dari dalam diriku.
“Biarkan aku membantumu, situasi yang kamu hadapi tak banyak berbeda dengan apa yang aku rasakan bertahun-tahun lalu” ujarku dalam hati.
Seiring membantu orang lain, saya merasakan indahnya hidup dan mendapatkan kebahagiaan.
Meskipun aku sadar seutuhnya kadang tak bisa bahagia. Dan tak berharap kebahagiaan datang secepat kilat.
Ar, ternyata membantumu pulih dari pelarian jiwa membuat diriku semakin kuat. Entah bagaimana denganmu Ar.. Setiap kali juga kau buatku tertawa dengan statusmu di dunia maya untukku.
“My Beiby suka ngelindur ATAU I was born to make you happy ATAU Nge-batman (begadang) with my miel (sayang –france-)” dan masih banyak lagi.
Apakah ia bercanda? Ah aku bingung. Karena aku belum masih memiliki perasaan bahwa ia kadang-kadang cuma bercanda. Tak tahulah saya….
Ia membuatku bertahan lebih baik dari sebelumnya, terimakasih Ar…. Bila suatu hari aku atau dirimu pergi, kekuatan itu akan tetap ada.
Karena aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana sama seperti aku mencintai saudaraku yang lain. Tanpa syarat.
“Cintai dirimu sama halnya mencintai TUHAN mu dengan segenap hatimu, lakukan sesuatu seperti apa kata hati kecilmu. Dengan begitu aku bisa mencintaimu dengan tulus dan sederhana, menemani dirimu seperti yang kau pernah minta”
Aku yakin dirimu akan jauh lebih baik dari sekarang di masa depan. Potensi itu sungguh luar biasa Ar….
WRITTEN ON September 10, 2009
YOU ARE BRILLIANT!!!
Catatan Harian Seorang Pria Agustus 31, 2009
Posted by lil4ngel5ing in Belajar mencinta, Suasana.4 comments

Berapa banyak hartamu untuk membeli sebuah kesabaranku?
Rasanya hatiku benar-benar hancur dibuat menderita.
Segala upaya ku kerahkan untuk bisa membahagiakanmu
Tapi sepertinya tak ada balasan dari dirimu
Mungkin bila tiba waktunya, aku tidak akan pernah peduli lagi
Akan kubiarkan menangis sejadi-jadinya dibawah mata kaki-ku
Ah apa aku tega demikian? Rasanya tidak akan tega, hanya bayangan saja
Aku tak pernah mau memperpanjang masalah, mungkin jalanku harus seperti ini
Cincin itu masih tetap tersimpan, rasanya ingin kubuang atau ku jual
Buat apa, toh dia tak akan pernah tau betapa aku mencintainya
Lebih baik kuberikan pada wanita lain, yang tidak aku cintai
Wanita yang jauh dari harapanku, wanita yang tidak pernah terlintas di benak
Ia datang tiba-tiba, dengan segala ocehannya yang lugu dan kadang mengesalkan
Tapi, ia sangat sayang padaku. Cintanya tulus, lembut seperti embun di pagi hari
Ia cantik dan lucu, kepolosannya kadang membuatku malu pada diriku sendiri
Aku sematkan cincin platina bertahta berlian di jari manisnya
Ia tak pernah tau, untuk siapa cincin itu sebenarnya berlabuh
Tapi pasti ia tahu untuk siapa hatiku berlabuh, pada ia yang hatinya diisi pria lain
Aku dan ia mengikat hubungan hanya karena sesuatu dan bisnis
Wanita cantik dan lucu itu tahu, aku pria yang tak tahu diri barangkali
Sering membentak wanita cantik dan lucu itu hanya karena kesalahan kecil
Ku lihat ia terpengkur di sofa rumah, letih wajahnya manis sekali
Betapa teganya diri ini menyakitinya, ah jangan-jangan aku sudah jatuh cinta lagi
Sepertinya, aku memang jatuh cinta lagi… tapi aku masih enggan mengatakannya
Sebulan, dua bulan, tiga bulan hingga setahun, ia kini membuatku tergila-gila
Aku jadi posesif, posesif tak beralasan. Ia sering kabur bila aku sudah menjadi ‘gila’
Tapi aku tak pernah katakan padanya aku jatuh cinta padanya
Tapi ia tetap seperti dulu, di balik kemarahannya karena sikapku, ia tetap manis
Suatu hari saat cintaku membuncah-buncah, wanita yang lain datang ke hadapanku
Terisak-isak karena pria yang ia cintai jatuh cinta pada wanita yang lain
Ia merajuk di pundakku, sedikit mabuk kepayang akibat minuman keras dan cinta
Aku tak tega, bingung mengapa ia kembali padaku saat seperti ini?
Wanita itu, membuatku bingung, memang masih ada nafas cinta di hatiku untuknya
Ini peluang, cinta itu tak pernah salah. Tapi peluang itu yang membuatku belingsatan
Ah peluang brengsek, mengapa terjadi saat ini. Bagaimana menyikapi peluang itu?
Wanita itu kembali lagi mengisi hari-hariku, aku tahu si cantik dan lucu itu cemburu
Wanita yang mengisi hariku selama setahun lebih itu terlihat sedih
Berulangkali ia pergi tanpa izinku, aku jadi kebingungan dengan apa yang terjadi
Hingga akhirnya aku memutuskan pergi menyebrangi pulau lain berikhtiar pada Tuhan
Semua orang mencariku, aku tak peduli yang penting sepulangnya keputusanku bulat
Malam itu, aku bermimpi, si cantik dan lucu seolah hanya tinggal nisan belaka
Aku terbangun, seperti baru tersambar petir, segera ku kemasi barang-barangku.
Pulang dengan perasaan tak karuan, ada apa dengan dirinya.
Aku tak peduli dengan semua hal keculi ingin melihatnya hidup-hidup
Ku buka rumah itu, tak terkunci, di dalamnya hanya ada ia seorang sebatang kara.
Rumah yang menjadi harta satu-satunya setelah ditinggal kedua orang tuanya.
Kulihat ia duduk melamun di teras dengan gelas berisi air putih di hadapannya
Ia tak mendengarku masuk ke dalam rumah, rumah itu tetap bersih seperti biasa
Ia membalikkan badannya, terkejut menatap wajahku yang sedikit tak terurus.
Ia bingung, tak tahu harus berkata apa, tak lama senyumnya mengembang
“Dari mana saja kamu, tak ada kabar? aku masak tadi, kelihatannya kamu lapar”
Ia berjalan meninggalkanku, mematung sendiri. Ah betapa tulusnya ia.
Aku mengikutinya, lalu duduk di ruang makan. “ayo makan, ini enak kok”
Aku tersenyum, ia tersenyum. Betapa lega hatiku mendapatkan dirinya baik-baik saja
“aku tahu, kamu bingung. Sekarang aku serahkan semuanya padamu” ujarnya
Aku membelalak, tak menyangka ia begitu tenang menyampaikan kegundahannya
Ia melepas cincin pemberianku, ikatan cinta yang palsu dariku
“ini, pada siapa cincin ini berlabuh hanya kamu yang berhak menyematkannya”
Nyaris saja aku tersedak masakannya, aku berhenti mengunyah
“Simpan saja, itu hanya untukmu seorang. Selamanya hanya untukmu”
Ia seolah tak percaya, sampai ku memeluk dirinya dan menangis
Aku minta maaf padanya, menyesali apa yang telah terjadi
Ia tersenyum, “tak apa, aku sudah tahu jawabannya. Aku menantimu seperti ini”
Lalu ia pergi ke luar rumah itu. Entah kemana, aku harap ia baik-baik saja.
“Kamu tidak akan pernah tahu, seberapa besar cintamu hingga orang itu meninggalkanmu” ujarnya lirih
lalu ia pergi menghilang dari hadapanku.
To be Continue to Catatan Harian Seorang Wanita
(Inspired by article, novel & drama)
Jakarta, August 29 2009
