1000 Wajah di Tengah Oase Januari 18, 2012
Posted by lil4ngel5ing in flashback story, lihat-lihat, Sosial.2 comments
Saya tak menyangka, orang yang terlihat kurus, hitam, dan punya logat betawi totok itu punya penghasilan sekitar 200 juta per bulan. Tapi besar pendapatannya selalu ia sumbangkan untuk yayasan yang ia cintai, Yayasan dan Sekolah Master terbesar di Indonesia.
Ya, ini cerita tentang si Abah, alias Nurrochim yang sudah 20 tahun mengelana mencari perlindungan dan sesuap nasi untuk anak-anak jalanan.
Setelah berusaha mengenal si Abah dengan segala problematika yang ia hadapi dan ia katakan, “semua itu hal mudah atas KuasaNYA.” Lalu ia bercerita sedikit tentang infeksi virus HIV yang menghantui warga sekitar. Penyebab HIV-AIDS, apalagi selain seks bebas dan peredaran narkoba ? Tetapi selain itu, ada satu hal yang juga meningkatkan HIV-AIDS yakni TATTOO. Ya, Tato!
Abah bercerita, beberapa tahun lalu anak-anak setempat, usia 8 hingga 10 tahun, sudah berani menato tubuhnya. Hanya bermodal uang Rp 5.000,- untuk DP alias uang muka, mereka bisa mencicil tatto permanen pada si penato sebesar Rp 1.000,- per hari. YA, NYICIL TATO! Sejak ada tato, ‘ngelem’ pun jadi kurang populer.
Abah sempat kaget dengan hal itu, dikiranya, uang itu digunakan untuk ‘ngelem’ atau beli narkoba. Semenjak adanya tukang tato keliling, Abah mengaku penderita HIV-AIDS jadi bertambah. Untuk mengurangi dampaknya, si Abah pun langsung mengumpulkan para kreditor tato yang tersebar di terminal Depok. Langsung saja para kreditor diberikan pekerjaan yang lebih bermanfaat, menjadi para desainer grafiti di tembok-tembok jalan layang.
“Pokoknya saya gak mau tau! Lu semua jangan jadi tukang tato kredit lagi buat anak-anak kecil!” Ucapnya menirukan mengenang percakapan masa lalunya. Lalu ia menambahkan, “Tuh, liat ada anak umurnya baru berapa belas tahun tatonya segudang di badan. Udah gitu karena dulu menato badan waktu kecil, pas besar kulitnya mekar, jadi bentuk tatonya gak karu-karuan,” ujar Abah. Kami pun para wartawan langsung tertawa.
Selepas cerita tentang tato, salah satu dari kami melihat sosok perempuan remaja manis yang lewat sambil membawa gitar. Segera ia dipanggil oleh Abah untuk memperkenalkan dirinya. “Nama saya Tata, saya ini pengamen yang dulu kecil dirawat Abah bersama anak-anak lain… Ibu saya meninggal karena kanker, ayah saya meninggal karena kecelakaan, dan saya ingin jadi pengusaha toko musik dan pencipta lagu,” ujar Tata yang kalau ia terawat, wajah dan tubuhnya akan jadi sangat aduhai.
“Kamu gak takut diapa-apain orang di jalan?” tanya salah satu dari kami. “Nggak, saya gak takut dan saya selalu berdoa supaya saya dilindungi Allah SWT. Alhamdulillah saya tidak pernah celaka,” jawabnya. Kok bisa? Ya, karena katanya ia sering berpura-pura menjadi anak lelaki yang sedang mengamen. ……Ini mirip film telenovela apa gitu ya? Hahaha………..
Tata bercerita tentang kehidupannya bersama koloni kecil si Abah, bagaimana Tata dan kawan-kawan sering ditahan polisi karena mengamen disembarang tempat. “Tapi, semua polisi di sini tahu siapa itu Abah! Kalau tahu Abah, pasti kami gak jadi ditangkap!” Ujarnya. Ya, begitu besar kekuasaan si Abah. Sekarang kekuasaan Abah pun bertambah, di sekitar 1000 terminal di Indonesia (yang rata-rata berlokasi di Jawa) terdapat sekolah master cabang! Anak didik Abah pun sudah banyak yang dapat beasiswa PTN ternama di Indonesia. ……Oh God, saya langsung kaget!……
Sebelum acara bincang-bincang berakhir, kami sempat meminta Tata menyanyikan dua buah lagu untuk kami. Kami pun ‘saweran’ untuk memberikan upah yang siapa tahu nanti jadi modal dan berkah untuknya. Tak disangka, Tata si gadis manis berusia 17 tahun itu pandai berbahasa Inggris, karena dia menciptakan lagu dengan bahasa Inggris.
Akhir kata, jangan kalah dengan pengamen kecil yang menghiasi jalan raya. Hidup memang keras bagi mereka, tapi siapa mau jadi anak jalanan seperti mereka?
-Anggita Devi-
January, 18th 2012
Oase Hati di Tengah Dunia Desember 9, 2011
Posted by lil4ngel5ing in Belajar mencinta.1 comment so far
Hai everyone…!! *lemparsenyumdulu*
Kali ini saya mau cerita tentang kisah yang saya ‘dapatkan’ sekitar sebulan lalu. Kisah terjadi di sebuah Sekolah Master Margonda Depok, dekat terminal Depok. Sebenarnya ini sudah mau saya tulis dari sebulan lalu, tapi karena mood belum maksimal, selepas aktivitas kantor saya baru tulis.
Kisah bermula saat saya liputan untuk produk ibu-ibu rumah tangga yang melakukan donasi pada sekolah itu. Sebelumnya, saya sudah pernah ke sana pada tahun 2008, untuk peliputan Bank Bu***** yang juga mendonasikan bantuan berupa uang dan peralatan. Di sana, hadir puluhan wartawan yang kepanasan (sumpah panas banget!) PLUS saya baru tiga hari pasca-operasi gigi, PLUS saya datang bulan hari pertama! Uhh, kebayangkan rasanya badan cekat-cekot sana-sini??? Saya pun tak bisa konsentrasi karena kesakitan. Akhirnya saya duduk saja di dekat panggung yang dihadiri ratusan orang (karena takut pingsan). Tetapi, selang beberapa waktu setelah liputan akan selesai, kami wartawan berkumpul dan mendengarkan cerita yang membuat badan saya terasa lebih ringan (bener lhoo!)
Begini ceritanya:
Alkisah, seorang asli Jakarta bernama Nurrochim yang besar sebagai pedagang dan sejak kecil tinggal di dekat terminal Tn. Abang, memutuskan untuk pindah rumah ke Depok bersama istri barunya. Perawakannya tidak besar, tidak juga terlalu kecil, kulitnya cokelat ‘matahari’. Cara bicaranya walaupun terdengar kasar, tetapi orangnya halus dan berdedikasi pada lingkungan. Ia pendiri sekolah Master Depok, yang diperuntukkan bagi anak batita sampai mahasiswa.
Mulanya dia cuma modal nekat, karena dia begitu prihatin pada anak-anak jalanan yang kebanyakan jadi korban sodomi dari para “bapak besar” dan lahir tanpa pernah tahu siapa bapak atau ibunya. Banyak pula yang cuma tahu ibunya, tanpa tahu bapaknya. Kebanyakan ibu-ibu mereka juga usianya masih sangat muda. Bayangkan saja, saat usia kanak-kanak saya, saya masih asik bermain dan bercanda dengan teman kecil saya, mereka harus berjuang di jalanan. Mulai dari mengamen, diperkosa (baik anak laki/perempuan), jadi buruh kasar, disia-siakan orang tua, hingga banyak dari anak perempuan yang hamil pada usia 12 TAHUN !! Menyedihkan, saya lihat sendiri.
Balik lagi ke cerita Pak Nur. Dia pun modal nekat membangun mushola kecil di sebelah rumahnya (dekat terminal persis), untuk mengurangi tindakan asusila yang sering terjadi di sekitarnya. “Saya takut, anak saya jadi rusak juga. Jadi saya pikir saya harus bertindak untuk menyelamatkan anak-anak saya. Karena saya yakin bila saya berbuat baik kepada sesama, anak-anak saya akan jauh dari kerusakan,” ya seperti itu dia bicara pada teman-teman wartawan.
Dengan segala strategi, ia buat mushala. Setelah mushala, ia buat TPA (tempat belajar Quran), setelah TKA dan TPA, ia buat SD, lalu terbentuk SMP, SMA, hingga akhirnya Perguruan tinggi yang sudah diakui Diknas. Berapa lama ia dan teman-temannya membuat itu semua? Sekitar 18 tahun, sejak tahun 1992. Sekolah di Sekolah Master, tidak setiap hari, tergantung dari kegiatan anak-anak jalanan yang juga harus mengais rejeki di pinggir ibukota dan ibukota. Tak masuk kelas juga karena sering kena razia polisi.
Pak Nur pun harus ‘bergulat’ otak dalam mendirikan sekolah itu. Dia menyiasati para raja preman yang terkenal sulit diatur, agar anak-anak itu bisa bersekolah dan mendapat makanan layak. Pada awal pendirian, Ia juga sering diusir dari perkantoran, dari departemen yang ada di Indonesia, karena sering dianggap lancang, karena modal nekat. Tapi usahanya berhasil, dan sekiranya tidak bisa menembus bertubi-tubi usiran, ia tidak akan bisa menjadikan sekolah itu dicintai oleh ribuan anak didiknya. Semua anak didiknya memanggil namanya “ABAH”. Ia bapak bagi anak-anak “Bang Toyib”, mereka punya bapak yang baik dan bertanggung jawab walaupun tidak pernah bertemu sosok bapak mereka.
Pak Nur atau Abah tidak pernah putus asa. Ia selalu berdoa dan bekerja keras demi kebaikan bersama. “Saya tidak pernah merasa sulit dalam mendirikan ini semua. Saya terlahir dari orangtua pengusaha, jadi saya tidak pernah merasa sulit untuk mendapatkan uang dan rejeki bagi anak-anak,” katanya dengan suara serak-serak. Setelah berkata seperti itu, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar 8 tahun, datang memanggil dan meminta tangan Pak Nur untuk ‘salim’. “Abah! Aku mau salim dulu, Assalamualaikum.. pulang dulu ya, Bah!” kata anak itu.
Salah satu dari kami bertanya, “Itu anak, tahu bapaknya siapa gak Pak?” Pak Nur menjawab, “Dia juga bang Toyib, ahahah” katanya. Sontak kami tertawa, salah satu dari kami menimpali, “Itu, bapaknya yang tadi disalimin..” sambil menunjuk Pak Nur. Hahahaha…. Tawa Riuh…
Pertemuan kami sebenarnya cuma sekitar 1 jam, berbincang-bincang bersamanya butuh konsentrasi juga. Karena, banyak bahasa “slang” yang kami tidak tahu artinya, dan itu bahasa jalanan setempat. Sebenarnya, saya masih mau banyak cerita, tapi pasti panjang banget ! Maka itu, saya mau bagi dalam dua bagian cerita tentang sekolahnya Pak Nur.
Semoga Nyanyian saya dalam tulisan ini Bermanfaat…!!! Sampai jumpa di next story-nya yaaa… hehe *PDbangetgw!!*
Salam hangat,
Anggita Devi
Cinta-Citaku Ini, Apa Cinta-Citamu? Desember 8, 2011
Posted by lil4ngel5ing in Renungan, Saya.4 comments
Jenuh, letih, lesu kadang jadi pegawai yang menanti akhir bulan tiba dengan setumpuk pekerjaan.
Saya pernah bercita-cita jadi artis (bukan selebriti) yang membuat banyak karya untuk dijual kepada publik. Jadi bisa dibilang saya ingin jadi artpreuneur (kalau saya membahasakannya seperti itu sih.. hehe). Tapi saya gak mau dibilang sok Ngartis alias pengen terkenal dengan segala sensasi gak mutunya itu. Beberapa tahun belakangan sepertinya mimpi-mimpi saya itu, semakin pudar. Meskipun dalam hati ada cahaya api yang masih membara, cuma kadarnya kecil.
Dalam perjalanan pulang kemarin (7/12/’11), saya bertemu dengan teman semasa kecil saya, namanya Insan Kamil. Dia punya blog juga sih di wordpress, dan saya sempat komentari blognya (walaupun waktu itu belum sadar dia itu teman kecil saya). Dia menegur saya terlebih dahulu, sementara saya ragu-ragu apakah itu benar teman saya? Ternyata Benar, itu Insan, temanku sewaktu kecil.
Saya mulai percakapan dengan bertanya soal istrinya, anaknya dan hingga pekerjaannya. Sepertinya, dia juga lelah dengan kondisi pekerjaannya yang hampir tiap hari 12 jam itu.
Mungkin saya masih beruntung, karena saya masih bekerja sesuai dengan jurusan yang saya ambil sewaktu kuliah dulu. Sementara dia, dulu ambil kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) jurusan MIPA FISIKA dan kini dia jadi bankir. Entah, mungkin takdir berkata lain,yaa??
Pikiran saya berkecamuk saat itu, memikirkan cita-cita saya waktu kecil dahulu. Lalu saya berkata, “Gue mau jadi ARTIS, itu prioritas gue dulu.. Dulu gue juga suka fisika kayak lo.. Tapi, karena SMA gue malas, entah kenapa hilang juga minat gue sama MIPA… Tapi begitu semester 2 kuliah, gue sering mikir, gue pengen pindah jurusan deh.. tapi sampai sekarang gak terjadi tuh!” begitu kira-kira.
Teman saya tertawa, ya, karena mungkin dia punya pengalaman sama seperti saya.
Perlahan, saat memasuki gang rumah, saya teringat masa sekolah di SMA dulu. “Andai, Andai, Andai,” itu cuma kata saya. Kembali lagi pada masa lalu yang manis, tapi juga ada pahit. Entah mengapa juga, saya teringat vespa kuning kakak saya. Ia bercita-cita jadi ilmuan biologi atau dokter yang berkuliah di UI dengan almamater kuningnya. “Semuanya biar serba kuning!” Begitu kata dia. Tapi kini sekarang jadi auditor pajak. Mungkin ia sekarang senang dengan apa yang ia dapatkan, tapi mengapa saya belum ya? *Bebel* Itu kali ya yang membuat saya tetap ingin jadi apa yang saya cita-citakan sejak usia 2 tahun.
Oh, masa SMA, andai bisa mengulang.. Pasti dengan tatapan yakin saya akan bilang sama orangtua saya, “I wanna be AN ARTPRENEUR, BUT SMART!!” Akhir kata, saya kangen sama doi yang dahulu selalu membuat saya tersenyum dan bersemangat… hahahahaha
-With Luv-
Anggita Devi (08/08/’11)



