CERITA CINTA BUNGA MATAHARI

 

Setiap bunga yang mekar pasti akan berkembang lalu layu. Bunga matahariku warnanya kuning terang. Bunga matahariku akan mulai redup kali ini. Namun masih banyak bunga matahari yang tumbuh berkembang dan layu milik gadis-gadis kecil itu, sampai dunia tutup usia.

Mengapa bunga itu tanpa nama, lalu orang menamakannya si bunga matahari? Konon, matahari ingin mencari teman setia yang bisa menemaninya kala siang dan redup kala malam.
Setitik benih suci bewarna tak berwarna menghampiri dan menyapa matahari di ufuk timur, dan ia berkata “Hai Matahariku, aku dengar kau sedang mencari teman? bukankah kau punya banyak teman di galaksi bimasakti ini?” sapanya sambil tersenyum.

“Ah, mereka itu kan sibuk dengan edaran planet dan kometnya… lagipula aku punya teman yang lebih besar dari aku. suatu saat, aku akan dimakan matahari yang lain karena dayaku akan habis” Ujar matahari sambil tersenyum ceria.

“Oh, begitukah? kalau begitu, teman seperti apa yang kau cari matahariku?” Ujar benih itu berharap.

“Aku mencari teman di planet bumi, teman kecilku bicara saat aku terang. Kau tau, aku tak pernah tidur atas kuasa Illahi.. makanya aku cari teman bicara” terang matahari.

“Kalau begitu, aku mau jadi temanmu” pinta si benih kecil.

“Oh ya? kamu begitu kecil teman, mana ada yang tahan bicara denganku setiap saat? aku begitu panas dan bisa membuat siapun mencair dan berpeluh… lihat kau begitu kecil, bagaimana jadinya bila kau berjemur di depan diriku setiap hari setiap waktu?”

“Dengar matahari, entah mengapa, begitu aku lahir di dunia ini… sepertinya Tuhan memintaku untuk mencintaimu” Benih kecil itu tertawa ceria.

“Memangnya kau sudah tanya pada Tuhan?”

“Aku sudah tanyakan pada-NYA, bolehkah aku menjadi pendampingmu kala bersinar semenit lalu. Lalu IA bilang boleh-boleh saja”

“Coba kutanyakan pada-NYA” lalu matahari pergi seharian bertanya pada ILLAHI meninggalkan si benih yang penuh dengan harapan.

Matahari pun akhirnya datang dan bersinar, si benih kecilpun berseri-seri.
“Bagaimana tadi? Bolehkan? Demi Alloh, aku sudah bertanya padanya… tapi kau tak percaya padaku, jangan-jangan kau bujuk TUHAN supaya aku tak jadi pendampingmu” Benih kecil cerewet bukan main. Mataharipun tertawa.

“Baik, kau boleh berteman denganku… Tuhan mengijinkan engkau… mulai saat ini, kau jadi kekasihku” matahari ikut senang.

“Apa kau tanya pada Tuhan, aku akan jadi pohon apa?”

“Kau mau tau? Kau akan jadi bunga si matahari, kau akan menemaniku sepanjang hari, bicara padaku dan tak berpaling dariku sedetikpun ketika bicara padaku… apa kau kuat kekasihku?”

“Aku kuat duhai kekasih baruku, mulai saat ini… aku akan selalu menemanimu kemanapun kau berputar seperti bulan yang setia pada ibuku si bumi” ujar benih itu senang.

“Kalau begitu, mulai sekarang biarlah orang tahu kalau kau kekasihku… maka itu kau akan kupanggil bunga matahari, kekasihku” ujar matahari lembut.

Putik dan Serbuk bertemu menghasilkan benih-benih baru bunga matahari. Warnanya kecoklatan, si hamster kecil pun lahap memakan bijih bunga matahari. Rasanya gurih mencerminkan keceriaan milik kekasih matahari. Itu mengapa bunga matahari mengikuti arah matahari, dari pagi hingga sore lalu layu. Namun tak lantas kelayuan itu meruntuhkan akar dan batangnya. Mati satu tumbuh seribu, sangat indah kekasih-kekasih matahari di kebun milikku.

Bunga matahari mencerminkan setiap individu yang setia pada pasangan hidupnya. Diri ini ingin seperti bunga matahari, setiap orang ingin seperti bunga matahari, tak terkecuali selebriti. Namun, dapatkah cinta kita semurni dan sekuat bunga matahari yang tetap semangat walaupun ditengah terik matahari?
Aku akan melayu, melayu seperti bunga – bunga itu. Seseorang pernah berkata, kecantikan akan termakan usia. Tapi tidak dengan pikiran kita. Banyak menyesalkan kecantikan luar dan dalamku tak tereksplor dengan baik. Aku seharusnya menjajal selebritas… ah, memang asik kelihatannya, tapi aku sangat tidak gila dengan popularitas fanatisme manusia moderen ini.

Sedikit aku menyesal, namun aku masih bisa bertahan karena masih bisa mensyukuri aku bukan tidur di trotoar dan pinggir jalan ataupun kardus-kardus kumal nan kusam.

Pepatah pernah berkata, popularitas yang baik akan timbul atas kuasa Illahi. Biarlah popularitas itu tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa harus materi semata. Muhammad SAW, Musashi Miyamoto, Tsun Zu, Toyotomi Hideyoshi, Sallahuddin, Johann Sebastian Bach, Isaac Newton, Gallileo Gallilei…. mereka terkenal bukan mau mereka. Tapi mereka terkenal atas kontribusi mereka pada dunia. Mereka tak butuh popularitas, yang mereka butuhkan hanya bagaimana agar karya ajaib mereka dapat digunakan, setidaknya bagi orang sekeliling mereka meskipun banyak mengorbankan banyak jiwa dan setidaknya bagaimana merubah hal yang buruk menjadi lebih baik lagi. Itulah popularitas mereka… Popularitas yang abadi seperti cinta bunga matahari pada matahari, seperti cinta abadi ILLAHI pada umatnya….

19th June 2008
@ New Office

…I LOVE WORKING AND WRITING A LOT…

Why? Tidak Bolehkah Hanya Sekedar Mengagumi?

Fly away... without me...

Saya sedang sangat sakit hati. Jujur, sangat sakit hati… ada apa dengan saya?

Sejak lulus SLTP tahun 2000 saya sering konflik dengan orang tua saya, entah mengapa persoalan kecil bisa menjadi sangat besar. Sampai sekarang hal tersebut masih sering terjadi…

Kali ini saya berurusan dengan teman dekat (pria tentu saja) yang saya sangat segan dan kagum akan keikhlasan-nya dan pengabdiannya terhadap orang tua. boleh dibilang saya jatuh cinta lagi, cinta yang berlandaskan rasa iba dan kekaguman luar biasa besar…

Tapi cinta itu harus kandas lagi karena tentu saja, ketika orang tua saya mengetahui hal tersebut. saya mulanya hanya berfikir, cinta itu entah akan di bawa kemana. tapi yang pasti dalam perjalanan penjajakan itu, pasti ada cocok dan tidak cocok. Saya belum berani bermimpi untuk bisa menapaki ke jenjang pernikahan. alasannya, tentu saja materi dan spiritual sangat belum mencukupi.

Apalagi pria tersebut lebih muda dari saya setahun. Bukan rasa cinta yang basi ! mau saya timbulkan sebenarnya. yang saya ingin jelaskan adalah kekaguman saya yang sangat luar biasa terhadap pria itu. Ia masih sangat belia sekali. ketika umurnya menginjak 18 tahun, selepas SMA ia pun bekerja. membantu perekonomian keluarganya yang semrawut. Membiayai adiknya sekolah, membantu biaya administrasi rumah tangga dan ia pun membiayai kuliahnya sendiri meskipun prestasinya tidak terlalu baik dan bukan ditempat yang bergengsi.

Saya dengar dari banyak orang, dini hari, ia bekerja membantu orang tuanya yang bekerja sebagai wirausaha makanan kecil-kecilan. Ketika waktu dhuha tiba, ia bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu departemen dalam negeri.

Kami kenal sudah cukup lama. Banyak orang yang berkata apapun yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan… saya percaya itu. Ia teman satu kantor Ibunda saya, Ibunda saya sepertinya menganggap dirinya sebagai anaknya sendiri. Jujur, sebelum mengenal dan banyak bincang dengannya saya biasa saja. namun hidupnya yang menurutnya punya moto “rejeki harus dicari, pekerjaan apapun harus siap sedia, yang penting bantu orang tua dulu”. Saya langsung terkesima, kami sempat dekat sampai orangtua saya melarang saya untuk dekat dengannya lagi. Entah lah, apakah mereka gengsi… yang pasti saya sangat sedih karena tidak bisa bertanya banyak lagi padanya tentang arti ketulusan dan bakti pada orang tua. Entah karena mitos beda usia yang masih menjerat, atau mitos pegawai negeri gajinya kecil saya tidak tahu pasti alasan orang tua saya secara jelas.

Pendapat saya sendiri, rejeki itu harus dicari, kesuksesan bukanlah diukur dari sebuah materi belaka. bagi saya, melihatnya sudah sukses, sukses dalam arti berbakti pada orangtua. Hubungan saya dan dirinya pun jadi sangat renggang, tak ada lagi sapa manis. Saya sadar akan hal itu dan saya sampai saat ini masih bisa memakluminya. Sepertinya orangtuanya sudah mengetahui, ia pun sepertinya undur diri supaya tak mengecewakan orangtua saya. Mungkin saja ia berfikir ia tak sepadan dengan diri saya atau menghindari konflik? tak tahu saya….

Terus terang, saya belum dapat mencontoh dirinya, yang mampu berbakti pada orangtua dengan sangat baik dimata saya. Saya pun sering melihat cara kerja dia yang mampu memuaskan atasannya dengan baik. Ah, saya sungguh terpesona dengan kerja kerasnya.

Andaikan ada kesempatan datang sekali lagi agar bisa memahami dan dekat dirinya meskipun masa depan masih panjang dan tak dapat diprediksi. Orangtua saya khawatir kalau saya bisa menuju ke jenjang selanjutnya dengan dirinya. Ah, terus terang sekali lagi saya belum kepikiran… Tapi banyak yang bilang saya harus terus maju bersama dirinya. Maju bersama dirinya? Masih bingung… Saya hanya mencoba berikhtiar, tirakat kepada Alloh SWT…. Semoga hal ini menjadi pelajaran berarti dalam hidup saya tentang ketulusan dan bakti kepada orangtua. Karena bagi saya apapun yang ada di Dunia bukan milik kita, kita hanya meminjam dari sang kuasa lalu kita mati hanya berbekal pengalaman hidup yang bersama jasad yang dimakan waktu.

Tapi, saya masih berharap bisa terus bertemu dan berbicara dengannya dari hati ke hati…

(@ warnet)

El Rojo Hilvanar ????

Ouchhh…

We call him as Mr. Ganteng…

    Saya, sepupu saya yang seumuran (Silvy), adik sepupu saya yang baru berusia 10 tahun (zanticha) dan adik saya sendiri yang baru menjajaki SMA (Lauretta) seperti tersihir oleh ketampanan pria yang ada dalam layar kaca.

    Memang tidak ada yang namanya nabi Yusuf kedua… paling tidak, banyak orang tua yang ingin anaknya kelak tampan seperti Yusuf. Malah lucunya, pria yang diberi nama seperti nabi sekaligus manusia paling ganteng sedunia jarang yang punya wajah sepertinya. Ingat lakon Fanny Fadilah sebagai Ucup? Ya, Yusuf bin Sanusi yang biasa dipanggil Ucup Item.

  Belum pernah kami mengagumi cowok jaman sekarang sedemikian rupa meskipun dengan kekurangannya. Seolah-olah kekurangan yang dimiliki hilang ditelan dunia. Memang cowok itu bukan manusia sempurna, dia manusia dengan segala kekurangan dan kebiasaannya yang mungkin tak disukai orang lain. Tapi, kami tersihir! tersihir dengan senyumannya… Ah, inilah kegilaan kami berempat, dari yang kecil sampai yang besar mendambakan pria seperti dirinya.

   Sayangnya, ia cuma ada satu di dunia ini. Cowok idaman bersama, meskipun jarak, perbedaan ras, budaya, agama dan strata sosial yang sangat berbeda kami sadari. Toh, lagipula dia hanyalah idola kami. Syukur-syukur kalau kesampaian bertemu dirinya suatu saat nanti. Mungkin dikala ia telah beruban, dan lapisan epidermisnya menunjukkan benang-benang keriput di sekujur tubuhnya.

Pencarian Jati Diri

    Pandangan saya, mengidolakannya merupakan pencarian jati diri saya sendiri. Saya ingin suatu saat sukses, entah dalam bentuk apapun yang pasti kesuksesan tersebut bukan hanya dalam bentuk materi atau pundi-pundi uang semata. tapi lebih kepada ketenangan batin yang sibuk mencari pengalaman hidup dan kisah yang tak dapat diperjualbelikan.

     Ini kan cuma blog, dibaca syukur2 bisa jadi penginspirasi orang lain. Kalau nggak dibaca ya sudah, no problem…. namanya juga diari…

Loncat ah ke lain topik…

     Buku yang pertama kali menginspirasi saya adalah pengalaman Toto-Chan gadis kecil yang punya nama asli Tetsuko Kuroyanagi. (eh, saya baru inget nama panjangnya sekarang!!!!hehehe) Saya baca buku itu pertama kali kelas 3 SD sekitar tahun 1993an. Buku Toto-Chan sendiri sudah bulukan, karena warisan dari Ayah saya yang terbit tahun 1980 (klo gak salah) Waktu itu cuma sekedar baca, tapi saya langsung jatuh cinta pada karakter Toto yang hidup era Perang dunia II. Sampai sekarang saya masih ingat esensi ceritanya.

    Toto, sangat aktif, bisa dibilang hiperaktif. Mirip seperti saya waktu kecil dulu, selalu mau tau hal-hal yang menarik perhatiannya. Seperti komunikasi yang merupakan terdiri dari lambang-lambang semantik, syntamagtik dan pragmatik. Mana mungkin seorang berperilaku kalau bukan karena satu lambang yang ber’komplot’ dengan lambang lain & dari lambang-lambang itu kita tafsirkan sesuatu yang secara berbeda. Makanya si Toto jadi kelewat aktif, begitu pula saya… bahasa gawulnya want to know aja…

    Sekarang saya sedang bingung, banyak kebingungan di benak saya selama ini. Karena hampir semuanya belum terjawab. Mungkin bagi sebagian orang, hidup itu adalah sebuah puzzle dimana kita harus mencari jati diri kita yang sudah ditentukan. Ataukah mouseios alias mozaik hidup yang terdiri dari kepingan pengalaman yang tak terduga sebelumnya dan menjadi keindahan serta keluarbiasaan seseorang. Tapi bagi sebagian orang, hidup itu mungkin harga mati karena setelah mengalami fase kedewasaan, orang harus memilih jalannya sendiri walaupun ia tak tahu setelah dilahirkan untuk apa hidupnya kelak. Atau hidup itu sebuah evolusi pikiran manusia yang paling akhir datang ke bumi setelah flora dan fauna. Sometimes, i feel like a little girl….

Saya yang mana ya ??? hehehehe

Dear human over there… wanna meet you to complete my life’s troughout….

-The end at Senci-